<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608</id><updated>2011-08-27T09:03:43.373-07:00</updated><category term='Makalah'/><title type='text'>Hidup</title><subtitle type='html'>hidup adalah perjuangan, dan perjuangan membutuhkan pernik-pernik dan usaha yang keras.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-2498376330100239059</id><published>2010-11-20T07:17:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T07:17:07.411-08:00</updated><title type='text'>E-BISNES VEMMA: .style1 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;...</title><content type='html'>&lt;a href="http://bizmbakir.blogspot.com/2010/11/stop2520handpng.html?spref=bl"&gt;E-BISNES VEMMA: .style1 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;...&lt;/a&gt;: ".style1 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: bold; }.style2 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: bold..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-2498376330100239059?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://bizmbakir.blogspot.com/2010/11/stop2520handpng.html?spref=bl' title='E-BISNES VEMMA: .style1 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;...'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/2498376330100239059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=2498376330100239059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/2498376330100239059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/2498376330100239059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2010/11/e-bisnes-vemma-style1-font-family.html' title='E-BISNES VEMMA: .style1 { font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;...'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-8599168987681060304</id><published>2009-07-03T11:10:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T11:18:14.350-07:00</updated><title type='text'>Isu-isu dan wacana feminitas</title><content type='html'>Deskripsi &lt;br /&gt; Membincang seputar isu-isu dan wacana feminitas atau kewanitaan tentunya sangat hangat dan fenomenal, tak kalah hangatnya dengan perdebatan masalah demokrasi yang saat ini sedang ngetren di negara-negara dunia, terutama Indonisia yang masih relatif dewasa menerapkan sistem demokrasi. Dari berbagai hal yang berkaitan dengan feminitas selalu menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak publik, baik muncul dari internal maupun eksternal islam. Wacana ini telah mengglobal, merata, tidak hanya mendominasi satu daerah atau satu negara, tetapi di seluruh pelosok dunia, dan terus mengalami perkebangan signifikan dalam perbincangannya. Rasanya pembahasan dan kajiannya selalu hot dan tidak akan pernah kering, stagnan dan terus dinamis mengikuti arus perkembangan zaman yang semakin rumit dan kompleks. Isu jilbab, poligami, kebebasan wanita serta peranan dan kontribusinya dalam kemajuan bangsa dan negara termasuk bahagian kecil dari isu fenimitas yang bergulir di seantero dunia. Jilbab, termasuk bagian dari ajaran islam yang di peruntukkan bagi kaum perempuan, ia merupakan identitas wanita mulim, tidak hanya sebatas sebagai simbol agama tanpa makna, tetapi di dalamnya tersirat nilai-nilai dan hikmah yang begitu mulia. Oleh karena itu penting di kaji dan di pahami secara mendalam yang rasional dan argumentatif. Akhir-akhir ini, isu jilbab sempat menghangat dan mencuat di ranah pemerintah, di kalangan politisi indonisia saat menjelang pilpres 2009 kemaren terkait dengan istri pasangan capres-cawapres yang sebagian mereka ada yang mengenakan jilbab dan sebagian juga ada yang tidak. Rasanya isu jilbab sudah masuk pada ranah politik yang sempat menjadi lirikan dan pertanyaan masyarat indonisia yang mayoritas muslim. Jangan-jangan nantinya jilbab di politisi, hanya di jadikan alat untuk mendapatkan perhatian luas dan kekuasaan, maaf bukan tidak setuju dengan jilbab..!. Semoga tidak terjadi demikian. Semoga jilbab di gunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan fitrah, fungsi dan maqashidnya. Begitu juga masalah poligami yang sempat menjadi sorotan dunia dan menjadi polemik tidak sedap, menjadi humur serta mengundang stereotip negatif bagi kaum ibu. Poligami telah menjadi ikon tersendiri bagi kaum perempuan. Para ibu sempat di hawatirkan dengan masalah ini lantaran takut di madu oleh suaminya. Seharusnya ibu tidak usah hawatir dengan poligami, sebab islam tidak serta merta menganjurkan berpoligami, islam memberikan aturan dan syarat-syarat yang sangat ketat yang seakan-akan tidak mungkin bisa di lakukan, dan itupun bisa di lakukan dalam keadaan darurat sesuai dengan maqashid syariah. Terkadang poligami di pahami dengan salah oleh sebahagian maysarakat dan pemikir muslim yang terpengaruhi oleh pandangan Oreantalis, di klaim sebagai sebuah sistem yang rapuh yang bertentangan dengan hikmah dan bertolak belakang dengan kemaslahatan manusia. Padahal kebijakan apaun dalam al Qur’an mesti terdapat hikmah dan itu demi kemaslahatan manusia. Hanya saja pertanyaannya, apakah kita paham betul tentang hal itu?   &lt;br /&gt; Di samping itu, juga masalah kebebasan wanita, peranan dan kontribusianya dalam memperadabkan bangsa menjadi fokus bahasan kami dalam tulisan ini. Kebebasan merupakan hak semua manusia, merupakan akses untuk kemajuan dan dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi secara indevenden, tanpa ada tekanan otoritatif dari pihak manapun dan siapapun. Kebebasan harus di berikan penuh kepada siapapun tanpa diskriminatif, tidak seorangpun di perbolehkan merampas kebebasan orang lain, terutama kebebasan wanita. Tugas dan segala aktifitas manusia memerlukan transparansi kebebasan yang luas dan terbuka, memerlukan kemandirian yang lair dari hak itu. kerena jika manusia kehilangan kebebasannya maka ia tidak dapat melakukan apapun dengan mandiri dan bertanggung jawab.  Namun kebebasan itu tidak bersifat mutlak, harus memperhatikan etika dan kaidah yang ada sehingga tidak akan merugikan pihak lain, tidak membuat seseorang terjebak pada perbuatan yang tidak etis lantaran kebebesannya. Sebagaimana kebebasan di negara-negara barat yang di pahami secara mutlak. Konsep hurriyah mutlaqah yang di tawarkan oleh negara barat, Oreantalis dan pengikutnya, memicu berbagai problem sosial yang tak terkendali, aspek-aspek moral menjadi redup, segala persoalan menjadi suram sehingga mudah memutarbalikkan fakta, yang haram di bikin halal, dan yang halal di bikin remeng-remeng sehingga semuanya menjadi kabur. Itulah kebebasan di barat dengan iklim bebas hukum yang tetunya harus di sikapai betul oleh kaum muslimin sehingga kita tidak terpengaruh oleh hal itu.  &lt;br /&gt; Oleh karena itu, mengkaji tema-tema di atas tentunya tidaklah mudah sebab memuat nilai-nilai filosofis yang dalam, untuk memahami dengan benar, tetntunya memerlukan pendekatan yang konprehensif, tidak hanya di pahami luar dan kulitnya saja sehingga hasilnya terkesan tidak logis dan selalu prolematis. Untuk itulah dalam tulisan ini penulis mencoba mengkaji dan memberika pemahaman yang benar dengan menempuh pendekatan analisa kritis-realistis-konstektual yang bersifat umum, dan tidak terlalu terperinci sehingga tema-tema di atas di pahami dengan terkesan formalistik semata. Meskipun analisa ini jauh dari kesempurnaan, namun setidaknya akan memberikan manfaat bagi para pembaca. Pendekatan –¬¬dengan bahasa yang cukup sedarhana sehingga mudah di akses dan pahami oleh para pembaca– bertendensikan pada penggalian hikmah dan fungsinya  yang di lengkapi dengan argumen-argumen para pemikir muslim terutama pemikiran Said an Nursi yang berkaitan dengan tema di maksud. Penulis menggunakan pendekatan ini, agar makna dan hikmah di balik teks itu lebih kontekstual sehingga dapat mengatasi problematika, maka disinlah terjadi harmonisasi dialog teks dan konteksnya. Dalam kajian ini, juga penulis tidak terlalu banyak menyinggung argumen teks al Qur’an maupun hadis secara normatif hanya sekelumit saja, dan tidak berniat memprovokasi siapapun, yang penting objektif dan ilmiah. &lt;br /&gt;Akhirnya, tentunya tulisan ini jauh dari jangkauan kesempurnaan, untuk itu harapan kritik konstruktif dari para pembaca sangat di nanti-nantikan. Akhirnya Penulis berharap dan berdoa’ semoga Allah tetap membingbing kami kearah yang benar karena dialah zhat yang maha tahu dan sebaik-baik pembingbing. Selamat membaca.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu-isu Jilbab&lt;br /&gt; Permasalahan jilbab-hijab merupakan permasalahan yang sering di permasalahkan oleh sebagian orang, ada pihak-pihak yang tidak menerima terhadap hal ini, ada yang sekedar menghargainya. Memang paradigma yang bergulir sekarang seputar masalah ini sangat kontroversial, ada yang menulak mentah-mentah, pun ada yang getol menyuarakan kewajiban hijab-jilbab. Padahal hemat penulis hijab-jilbab merupakan harga mati yang tidak di tawar-tawar lagi dengan alasan apapun. Dari sisi sejarah, hijab telah ada dan menjdai taradisi orang-orang terdahulu. Keberadaannya telah populer sejak masa Nabi Ibrahim As. di kalangan bangsa Ibrani dan terus di kenal hingga munculnya agama masihiyyah (nasrani). Dalam kitab-kitab agama yang di baca oleh orang-orang non muslim di kenal dengan sebutan” Barôqi’ wal ‘Ashâib”, kerudung. Kalau dalam al Qur’an di kenal dengan hijab. Laros mengatakan bahwa wanita Yunani dulu menggunakan khimar(kerudung) ketika hendak keluar rumah, mereka menutup wajahnya dari pinggir kerudung itu. Dan menurutnya, agama nasrani mengizinkan perempuan menggunakan kerudung (khimar), baik di luar rumah maupun pada saat shalat. Mereka memakai kerudung pada abad pertengahan terutama abad ke sembilan.  Namun pada masa jahiliah menampakkan leher, dada dan hiasan lainnya yang seharusnya di tutupi sudah menjadi taradisi yang menyebar luas dan populer pada masa itu. Yang paling mengerikan adalah taradisi jahiliah itu kembali menyerap masa sekarang. Oleh karena itu Allah secara husus menyebutkan kata zinah dalam ayat ولا يبدين زينتهن  untuk menghilangkan dan mencabut taradisi tersebut yang tengah terjadi pada meyoritas manusia.  Alih-alih sekarang hal ini dipermasalahkan dan dinggap hal yang menghambat terhadap kebebasan wanita, bahkan bagi yang memakainya di anggap primitif dan ketinggalan zaman. Inilah kenyataan sekarang. Hingga sebagian muslimah ada yang belum mengenakan kerudung padahal ini merupakan kewajiban bagi meraka. Jika ditanya, mengapa anda tidak memakai kerudung? jawabannya sedarhana saja, yaitu “kebebasan memilih” atau belum siap untuk malakukan itu. Dari sinilah perlunya memberikan penyadaran dan pendidikan islam bagi kaum muslimah. Bagi islam, hijab-jilbab bukanlah sekedar meneruskan tradisi terdahulu, melainkan sebuah anjuran ilahi yang sarat dengan hikmah dan nilai-nilai agama.&lt;br /&gt; Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan kehormatan dan melindungi perempuan dari hal-hal yang tidak di inginkan. Wanita merupakan makhluk yang lebih lemah dan lebih halus dari laki-laki, asal penciptaannya juga di ambil dari sebagian tulang rusuk laki-laki. Oleh karena itu di perlukan perlindungan dan benteng yang ketat agar kehormatan dan nilai jati dirinya tetap terpelihara. Disinilah islam mewajibkan perempuan untuk menutup kepala (berjilbab). Said an Nursi mengatakan” sesungguhnya perempuan yang meperlihatkan kecantikannya atau bersolek tidak terikat dengan aturan maka ia sebagai pemicu dekadensi moral masyarakat” . Artinya, menampakkan kecantikan, hiasan apalagi perempuan cantik, dan mempertontonkan gaya pikatnya adalah sebagai pemicu terjadinya fitnah dan merangsang kaum lelakai yang memiliki niat buruk. Wanita di ciptakan Allah begitu indah dan halus dengan bentuk yang memikat kaum lelaki dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seluruh anggota badan perempuan termasuk aurat (abila terbuka menjadi aib) kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Aib yang saya maksudkan adalah jika terbuka dan di pertontonkan menilbulkan kesan negatif dan kehilangan harga diri, di samping memicu fitnah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan perempuan untuk menutup anggota badannya termasuk kepala dengan menggunakan jilbab atau kerudung. Allah berfirman” Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S al Ahzab: 59) Sedangkan ayat yang menyangkut dengan larangan menampakkan hiasan” Dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(Q.S. an Nuur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Hijab, jilbab, Niqab dan khimar (kerudung)&lt;br /&gt;Ada perbedaan pengertian anatara hijab, jilbab dan niqab. Menurut ‘Abdullah bin Mas’ud, Niqab atau yang di kenal dengan cadar adalah penutup muka dengan hanya memperlihatkan kedua mata bagi kaum wanita agar terhindar dari fitnah. Sedangkan hijab menurutnya adalah menampakkan wajah dan kedua telapak tangan.  Hal ini berdasrkan hadis” jika perempuan berusia baligh (dewasa) ia tidak layak di lihat selain wajah dan kedua telapak tangannya”   Sementara Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.  Khimar atau kerudung adalah sehelai kain yang dapat menutupi pundak perempuan dan berbentuk lapang hinga hampir sampai ketanah. Dari definisi di atas, bisa di ambil kesimpulan bahwa sebenarnya secara bentuk dan pemakaian tidak bermasalah, yang terpenting menutupi kepala dan rambut apapun bentuknya dan bukan kain yang tipis sehingga masih tanpak keliahatan. Sedangkan niqab, hukumnya masih di perselisihkan ulama. Namun yang lebih kuat adalah boleh saja.&lt;br /&gt;Kemudian perlu di perhatikan, bahwa hijab atau jilbab, kerudung tidak hanya sekedar sebagai simbol agama tanpa makna dan hanya di lakukan dengan dasar ikut-ikutan, melainkan ia sebagai fitrah bagi perempuan dan untuk menjaga kehormatan, harga diri, serta sebagai bentuk preventif terjadinya kejahatan. Bahkan keutamaan hijab bukan kembali kepada hijab itu sendiri, melainkan akan membentuk kebpribadian dan akhlak baik dan bersopan sanyun dalam penampilannya. Said an Nursi mengatakan” sesungguhnya hijab merupakan sesuatu yang fitri bagi perempuan, karena mereka di ciptakan dengan lemah lembut. Maka diri mereka membutuhakan seseorang yang dapat melindungi mereka dan anak-anaknya.  Dalam wacana pembaharuan agama, di perlukan rekontruksi atau pembaharuan tentang pemahaman hijab atau jilbab yang substansial dan perlunya menghidupkan kembali di masa kini sehingga tidak terkesan simbolik, nilai-nilai di balik hijab itu harus di kaji secara mendalam dan serius sehingga bagi yang memakainya lahir dari sebuah kesadaran yang hakiki dan hati noraninya. Maka dari sinilah menurut Muhammad Na’im muhammad hani sa’i, perlunya pembaharuan hijab dalam arti membumikannya dalam bentuk nyata serta percaya diri yang di sertai dengan sikap moral sehingga hijab ataujilbab itu betul-betul bermakna baginya dan sesuai dengan maqasid sayariah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita boleh menampakkan hiasan atau aurat&lt;br /&gt; Sebagaimana di sebutkan di atas bahwa wanita tidak di perkenankan bahkan haram hukumnya menampakkan hiasan (anggota tubuh yang seharusnya di tutup) dan mempertontonkan kecantikannya di hadapan publik atau orang lain. Namun perhiasan itu boleh di lihat oleh siapapun jika keadaan terpaksa, artinya larangan itu tidak berlaku mutlak di ikuti dan hukumnya bisa berubah. Di sinilah letak keistimiwaan islam yang mengharuskan memakai hijab dan jilbab bagi wanita, tapi tetap memperhatikan situasi dan kondisi. Wanita boleh saja auratnya terlihat atau tidak berhijab dan tidak berjilbab di hadapan orang-orang tertentu, yaitu mahramnya. Sebagaimana di sebutkan dalam ayat di atas. Rincian orang-orang tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt; Suami. Karena wanita lebih berhak menampakkan kecantikannya yang memikat di hadapan suami, dan suami boleh melihat seluruh badan istrinya kecuali kemaluan. Demikian pula bersenang-senang dengan cara apapun selama jalur yang halal. &lt;br /&gt; Bapak, mertua, kakek, baik dari garis ayah atau ibu.&lt;br /&gt; Anak tiri , baik laki-laki maupun perempuan&lt;br /&gt; Saudara kandung, atau saudara se ayah atau se ibu&lt;br /&gt; Keponakan, paman dan bibi. Dan hukum ini berlaku bagi orang yang ada hubungan kerabat dari sisi nasab ataupun dari sisi susuan.&lt;br /&gt; Para perempuan (sesama islam).&lt;br /&gt; Para hamba sahaya yan mereka miliki atau para pelayan laki-laki (atau) yang tidak mempunyai keinginan kepada perempuan&lt;br /&gt; Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari hal ini, sebagaimana saya singgung di atas bahwa  berjilbab atau hijb tidak mutlak di larang, ada situasi dan kondisi dimana perempuan boleh membuka hiasannya dan kepada siapa ia boleh bersolek. Situasi-situasi itu seperti saat berada di rumah yang tidak ada orang lain kecuali mahramnya, bapak, ibu, suami, saudara dan lain-lainnya. Dan atau saat kondisi darurat, semisal terkenak penyakit di bagian tertentu yang hanya dapat di lihat oleh sesama wanita muslim, maka pengobatannya di perkenankan kepada dokter wanita atau kalau tidak ada dokter wanita maka di perkenankan untuk dokter laki-laki, itu pun harus di awasi oleh mahramnya. Di sinilah letak bahwa islam sangatlah konstektual dan kondisional.  Oleh karena itu, kami mengajak para perempuan agar kembali mengenakan hijba dan jilbab baik sedang di jalan, berbicara, di mobil, di forum-forum, di madrasah, di kampus, di restoran dan tempat-tempat umum lainnya, dan hendaknya pandai memilih warna hijab dan jilbab yang bagus serta tidak terlalu tipis sehingga tidak kelihatan. Hal itu supaya harga dirinya tetap terpelihara dengan baik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dan fungsi hijab, jilbab menurut an Nursi&lt;br /&gt; Allah berfirman” Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".( Q.S. Al Ahzab: 59) &lt;br /&gt;Berangkat dari ayat di atas, Said an Nursi sebagai pemikir tulen yang sangat kritis akan pemahaman dan peka menggali ajaran-ajaran islam serta getol menulak berbagai bentuk penyimpangan paradigma sering mengkritik wacana jiljab atau hijab pada saat itu yang kerap di klaim sebagai hal yang tidak fitri bagi perempuan. Ayat yang memerintahkan hijab bagi perempuan malah di tuding dan di anggap sebagai bentuk kebijakan yang sifatnya mengekang dan mengikat wanita sehingga wanita terpenjara oleh hijab dan jilbab itu. Untuk membungkam dan menjawab tudingan itu, beliau mencoba melakukan pendekatan pada penggalian hikmah dan fungsi jilbab yang menunjukkan bahwa hukum jilbab seseuai degan fitrah wanita dan itu merupakan kebijakan yang sangat agung yang merupakan kebijakan final dalam al  Qur’an. Ada beberapa hikmah yang di kaji oleh said an Nursi, diantaranya:&lt;br /&gt;• Dari sisi firah. Jilbab merupakan suatu hal yang bersifat fitri bagi perempuan, karena perempuan di ciptakan dengan lemah lembut, ia membutuhkan seseorang yang dapat melindungi dirinya dan anak-anakya. Perempuan secara naluri sudah punya keinginan untuk berhijab, berjilbab, menutupi segala bentuk auratnya guna menghindari dari hal yang tidak di inginkan, bahkan perempuan yang sudah lewat umur lebih menginginkan untuk berjilbab dari pada wanita yang masih usia relatif muda. Oleh karena menurut Said an Nursi bahwa komonitas wanita yang tidak memakai hijab, jilbab dan suka berhias di hadapan orang lain sangat bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Anjuran al Qur’an terhadap hijab dapat melindungi kaum perempuan dari kehinaan, kerendahan dan kehancuran moral. Secara firta, wanita punya rasa takut terhadap laki-laki lain. Rasa takut inilah secara firah, perempuan dengan sendirinya tertuntut untuk memakai hijab dan tidak menanggalkan kecantikannya. Wanita yang di ciptakan dengan lemah lembut, dan mudah terpengaruh dapat memicu pada kebobrokan akhlaknya, mudah terpengaruh oleh pandangan-pandangan yang negatif sebagaimana mereka mudah terpengaruh oleh gemerlapnya meterialistik. Kita lihat saja di negara Eropa, di berbagai media, mayoritas wanita yang mempertontonkan kecantikan dan bersolek di hadapan publik sering mengadu terhadap pihak kepolisian lantaran banyak yang melirik dari kaum laki-laki yang punya niat negatif dan meraka mudah terpengaruh oleh keinginan laki-laki karena mereka menilai bahwa perempuan yang berpenampilan seperti itu mudah di goda sehingga orang tidak was-was merayunya.&lt;br /&gt;• Hubungan kuat dan cinta yang mendalam antara suami-istri bukan kerena tuntutan kebutuhan hidup dunia semata, wanita bukan hanya teman hidup dunia, melainkan ia sebagai teman hidup abadi di alam akhirat nanti. Untuk itu jangan sampai wnita itu mempertontonkan dirinya kepada orang lain kecuali kepada sang suaminya, tidak boleh memikat orang lain sehingga memicu kecemburuan dan kemarahan suami. Di sinilah menurut Said an Nursi pentingnya memilih istri yang serasi (kufu), yaitu keserasihan dan kesamaan satu sama lain. Keserasiahan yang paling penting adalah dari aspek agama, teguh pada ajaran dan perintah agama.&lt;br /&gt;•  Hikmah terikat dengan kehidupan keluarga. Kebahagiaan, kecemerlangan dan keberlangsungan hidup berumah tangga harus berlandaskan pada kepercayaan antara dua belah pihak (suami-istri), saling menghormati dan saling menyayangi. Namun kepercayaan itu bagi suami pelan-pelan akan menjadi sirna, sikap menghormati dan cinta kasih sayang menjadi redup bila istri itu kerap mempertontonkan perhiasan dan daya pikatnya pada orang lain yang seharusnya tidak di lakukan. Kemudian akan memicu sikap cemburu dan kemarahan suami. Disinalah pentingnya suami memberikan pendidikan yang baik kepada istrinya, pendidikan yang bernuansa islam dan bermoral.  &lt;br /&gt;• Hikmah yang berkaitan dengan keturunan.  Telah manjadi pengatahuan masyarat luas bahwa “banyak keturunan” merupakan kebanggaan bagi semua manusia. Tidak ada suatu bangsa atau negara manapun yang menulak memperbanyak keturunan. Siapapun mesti ingin punya anak lebih dari satu, dua atau tiga. Rasulullah bersabda” kawinlah kalian, lalu memperbanyaklah keturunan, karena saya bangga dengan ummat ku pada hari kiamat”. Bagaimanapun juga biasanya wanita yang tidak memakai jilbab dan selalu  menpertontokan hiasan secara transparan sulit untuk mendapatkan pasangan karena tidak dapat kepercayaan kaum laki-laki, dan dapat mengurangi keturuanan. Siapun sebagai seorang lelaki meskipun ia oarang fasik, tidak baik perangainya masih menginginkan wanita yang baik, yang terpelihara dan pandai menjaga harga diri sebagai pasangan hidupnya, ia tidak menghendaki wanita yang suka membeberkan kecantikan dan harga dirinya. Kenapa demikian, kerena wanita punya tanggung jawab; tanggung jawab mengatur urusan rumah tangga, mendidik anak  dan menjaga harta suaminya. Tentunya tanggung jawab ini membutuhkan kepercayaan dan keikhlasan bagi wanita. &lt;br /&gt;Dalam perspektif ilmu fikih, sebagaimana di sebutkan para ulama dan pakar fikih bahwa perempuan yang menutup dan menjaga auratnya serta tidak memperlihatkan badannya pada orang lain merupakan salah satu dasar syariat dan salah satu kewajiban agama. Sedangkan dalam menutupi wajah dan kedua telapak tangan masih terjadi selisih pendapat dari kalangan ulama, namun mereka tetap sepakat bahwa jika perempuan menutupi bagian itu termasuk keutamaan yang di sunahkan dalam islam. Barang siapa yang ingkar tarhadap dasar hijab berarti ingkar terhadap salah satu dasar islam. Munurut Muhammad Na’im Muhammad Hani Sa’i tujuan paling mulia dari hijab atau jilbab itu adalah penyelarasan dan penggabungan antara nilai-nilai batin dan nilai-nilai zdahir. Dan hal ini, masuk pada kaidah usul fiqh “ سد أبواب المفاسد وغلق منافذ الفتن mengantisipasi terjadinya kejahatan dan fitnah”  dengan tujuan untuk menjaga harga diri dan akhlah yang menjadi tonggak kehidupan masyarakat.      &lt;br /&gt;Ada pesan berhaga yang harus menjadi pelajaran bagi wanita, yaitu bahwa sebaiknya perempuan itu harus menggunakan ke cantikannya sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh syariat sehingga kecantikan itu tidak hanya di nikmati di dunia saja. Melainka juga akan di nikmati pada kehidupan yang abadi. Untuk itu hiasilah kecantikan itu dengan hiasan yang sesuai dengan etika al Qur’an dan peliharalah sebaik mungkin sesuai dengan roh pendidikan islam sehingga kecantiakn itu lebih bermakna dan lebih berharga. Apapun menampakkan hiasan merupakan racun yang sangat membahayakan dan merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah. Sebab wanita yang tidak memakai jilbab suka bersolek di hadapan orang lain, mempertontonkan keindahan tubuhnya dapat memicu hawa nafsu dan syahwat laki-laki yang kemudian akan berlanjut pada prilaku yang berlebihan yang berujung pada penghancuran sendi-sendi kehidupan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu Poligami&lt;br /&gt;Isu poligami merupakan permasalahan krusial yang masih ngetren dan hot di bicarakan oleh semua pihak,  bahkan hal ini sempat menjadi ikon negatif bagi kaum perempuan yang di klaim mencoreng kehormatan dan hak mereka, memicu emosional yang tak terkendali. Alih-alih masyarat sekarang banyak yang menulak poligami dan legitimasi al Qur’an itu di klaim bertentangan dengan hikmah dan kemaslahatan manusia, ia dianggap tidak lagi realistik, tidak layak di lakukan di era  modern, pasalnya kehidupan dahulu dengan sekarang sangat berbeda, baik dari sisi struktur sosial dan budaya. Kemungkinan besar latar belakang munculnya klaim tersebut di karenakan poligami akan mengancam eksistensi kehidupan keluarga, menimbulkan pertikaian rumah tangga dan tekanan jiwa bagi istri yang di madu serta bertentangan dengan tabiat manusia. Mungkin bagitulah gambaran singkat masyarakat modern yang begitu dangkal melihat substansi dari sistem poligami. Sebenarnya kalau di lakukan kembali investigasi sejarah, bahwa sebenarnya poligami bukanlah polemik modern, tidak hanya ngeteren di perbincangkan masa ekarang, tidak hanya terjadi pada islam saja, melainkan sudah hadir sejak dahulu kala pada maysarakat Yahudi dan Arab Jahiliah, dan ini terus berkembang hingga kenegara lain, semisal Rusia, Yogoslovia, dan juga berkembang pada bangsa lain seperti Jerman, Belanda, Denmakr, Beljika, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak benar anggapan bahwa persoalan ini hanya terjadi dalam islam. Dan hingga sekarang sistem poligami terus tersebar di berbagai bangsa yang tidak menganut islam, semisal afrika, India, China dan Jepang.    &lt;br /&gt;Perkawinan pada masa jahiliah di perbolehkan hingga tanpa batas, dalam kondisi demikain perempuan menjadi objek pelampiasan nafsu dan kekerasan serta di rugikan, di perlakukan tidak adil. Demikian juga dalam kitab taurat, di perbolehkan kawin dengan jumlah yang tidak terbatas tanpa terkait dengan syarat-syarat. Maka dari itu, poligami dalam islam hanya sebatas untuk memberikan solusi, arahan dan batasan yang dapat di lakukan oleh siapapun yang bertanggung jawab sehingga perempuan tidak lagi di rugikan, dengan tetap memenuhi syarat tertentu dan dalam kondisi pengecualian serta darurat sebagai solusi yang terjadi. Ini sebenarnya merupakan solusi tengah, tapi realistik bagi masyarakat sehingga tidak sembarangan di lakukan oleh siapapun dengan tujuan hanya melampiaskan hawa nafsunya yang dapat merugikan perempuan, dan itu bisa di lakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Sekarang pertanyaan sedarhananya, kenapa islam tidak menghapus sistem poligami yang telah lama menjadi ikon masyarat yang sempat di klaim mencoreng kehormatan dan hak perempuan, apakah islam tidak memperhatikan kehormatan wanita? Tentunya hal itu mesti ada hikmah dan tujuan mulia sehingga islam tetap memberikan legitimasi. Tidak mungkin apa yang di anjurkan dalam islam dapat menudahi kehormatan wanita, justru islam agama yang getol menjunjung tinggi kehormatan dan hak perempuan. Bukankah al Qur’an di turunkan sebagai rahmat bagi semua alam, bukankah kebijakan dalam al Qur’an mengandung hikmah tersendiri. Kita sebagai umat islam harus meyakini bahwa kebijakan apapun dalam al Qur’an mesti terdapat nilai filosofis-realistis dan logis serta solutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami sebagai solusi sosial&lt;br /&gt;Berangkat dari firman Allah” Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265] , Maka (kawinilah) seorang saja[266] , atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(Q.S an Nisa’: 3)&lt;br /&gt;Dalam bagian ini, penulis tidak membahas secara terperinci penafsiran ayat di atas, namun hanya melihat secara umum saja. Hemat penulis kalimat “kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki” ada dua alternatif jika seseorang tidak memiliki kemampuan berpoligami; dua, tiga atau empat. Pertama, kawinlah satu perempuan yang baik, atau kedua, kawin dengan budak perempuan yang kamu miliki. Menurut Muhammad abduh bahwa meskipun ada perintah poligami, jika hawatir untuk tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya maka al- ternatifnya harus tetap konsisten pada satu istri saja (monogami). Kehawatiran ini cukup dengan paraduga dan keraguan; dirinya menduga dan waswas tidak akan mampu menjalankan dengan adil dan bertanggung jawab. Oleh karena itu poligami di bolehkan bagi orang yang percaya diri untuk berlaku adil, tidak ragu atau menilai dirinya bisa melakukan hal itu (adil). Kalimat” Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Menurut Abduh monogami tidak akan rentan untuk melakukan kecurangan dan kelaliman pada istri dan lebih bertanggung jawab   oleh karena itu menurut Abduh bahwa pembolehan poligami dalam islam merupakan hal yang cukup simpit (di perketat) dan itu hanya bisa di lakukan oleh orang yang dalam kondisi darurat dengan tetap memenuhi syarat, yaitu “percaya diri untuk berlaku adil serta aman melakukan kecurangan dan kelaliman”. Bayangkan jika dua istri dalam satu rumah misalnya, maka yang terjadi adalah akan menimbulkan hal yang tidak baik dan perasaan aneh antara satu sama lain dan ini kemudia akan menghancurkan sistem kehidupan keluarga yang nantinya akan berdampak lebih luas. Muhammd abduh sebagaimana dikutip oleh Zainab Ridhwan, bahwa beliau menolak masalah poligami, ia berpendapat bahwa poligami bertentangan dengan tabiat, naluri manusia. Karena faktanya poligami merupakan penghinaan bagi perempuan, sebab perempuan tidak akan rela di samping suaminya ada perempuan lain, sebagaimana seorang suami tidak akan rela ada laki-laki lain yang mencitai istrinya. Hemat penulis, dalam hal ini Muhamda Abduh melihat dari sisi normal, bukan dari sisi keterpaksaan atau darurat. Namun meskipun demikian beliu menggaris bawahi bahwa poligami tetap di bolehkan dalam kondisi darurat. Kondisi darurat ini mencakup dua hal: pertama, istrinya terkenak penyakit parah sehingga ia tidak mampu memenuhi hak-hak suami. Kedua, istrinya dalam kedaan mandul. Sedangkan suaminya menginginkan keturunan atau generasi. Tetapi hal ini tidak mutlak di lakukan. Selain itu ada syarat lain yaitu harus ada persetujuan dari istri.  Jadi intinya jika kondisinya seperti itu maka solusi terakhir adalah poligami. &lt;br /&gt;Menurut Zainab Ridhwan ada beberapa syarat yang harus di penuhi dalam perkawinan, diantaranya: pertama, al bâah( mampu). Mampu memikul beban kehidupan rumah tangga dalam segala hal, harta (biaya hidup), pendidikan dan kebutuhan biologis. Sedangkan berpoligami al bâ at itu  atau perangkat kemampuannya lebih luas dan lebih berat bagi suami, karena ia bertanggung jawab untuk memenuhi dua istri atau lebih banyak, dan dalam hal harta (nafaqah) harus di perlakukan dengan sama, adil dan mulia dengan memperhatikan masing-masing istri, anak laki-laki maupun perempuan. Kedua, ihshôn, pembentengan diri sendiri. Tujuan nikah–sebagaimana di jelaskan dalam islam– adalah agar seseorang terjaga dan terpelihara dari perbuatan zina dan asusila. Namun kenyataannya bagi orang yang berpoligami tujuannya bukan untuk mempelihara diri, tetapi hanya sekedar untuk melampiaskan syahwatnya. Hal semacam ini jelas di larang dalam islam bahkan haram hukumnya berpoligami. Sebagaimana sebda nabi”  لعن الله الذواقين والذواقات . artinya; “Allah melaknat orang-orang yang suka kawin dari laki-laki maupun perempuan (dengan tujuan hanya untuk melampiaskan salera nafsu)”. Jelas, tujuan ini bukanlah asas bangunan keluarga dalam islam yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan generasi dan kasih sayang. Ketiga, regenerasi, membuat keturunan. Salah satu dari tujuan nikah adalah regenarasi atau untuk membuat keturunan yang baik melalui sistem keluarga yang baik. Keempat. Hak istri di cerai. Ikatan suami istri dalam menjalankan bahtera rumah tangga mestinya didasarkan pada rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah) sehingga dalam rumah tangga menjadi harmonis, nyaman dan tentram. Namun jika kehidupan rumah tangga tidak stabil, tidak harmonis kehilangan rasa kasih sayang, sering tengkar dan tidak bisa teratasi, maka alternatifnya adalah menempuh jalan cerai guna terhindar dari permasalahan yang ada. Jika tidak di cerai maka konflik rumah tangga akan terus terjadi. Maka dari sinilah islam mensyariatkan talak agar suami-istri keluar dari konflik tersebut, dengan menempuh talak maka akan tercipta ketenangan dan masing-masing merasa keluar dari masalah yang ada. Jelas, solusi ini sangat ampuh untuk mengatasi konflik dan Allah akan memberikan kecukupan.  Allah berfirman” jika keduanya bercerai, Maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.(Q.S an Nisa’ :130). Oleh karena itu logikanya adalah jika seseorang sudah tidak mampu menjalankan kehidupan rumaha tangga, bagaimana mungkin ia melakukan poligami yang bebannya lebih berat dan dalam keadaan seprti ini tentunya larangan poligami sangat di tekankan bahkan jika berpoligami akan menimbulkan masalah yang lebih besar, malah bukan solusi yang di harapkan.  &lt;br /&gt;Sementara Said an Nursi menilai bahwa masyarakat sekarang sudah tidak menerima lagi adanya poligami dan tidak siap untuk itu, dan kebijkan al Qur’an itu di klaim tidak sesuai dengan hikmah serta bertentangan dengan kemaslahatan manusia. Untuk menulak anggapan itu, menurut beliau poligami harus di lihat dari sisi hikmahnya. Hikmah poligami bukan untuk melampiaskan salera nafsu, melainkan hikmah dan tujuan yang paling mendasar adalah memperbanyak keturunan. Sementara kelezatan dari pelampiasan nafsu itu merupakan bagian rahmat Allah untuk memenuhi tujuan tersubut. Jika  hikmah perkawinan itu hanya sebatas untuk pelampiasan nafsu maka subtansinya menjadi terbalik karena hal demikian berlaku untuk semua hewan.  Di samping itu, hikmahnya memperbanyak hubngan nasab dan kerabat. Hemat penulis bahwa Said an Nursi sebenarnya tidak melarang dan tidak pula memerintahkan poligami, melainkan belaiu hanya melihat dari sisi tujuan itu sebagai legitimasi dan akurasi kebenaran adanya poligami, di samping di dukung dengan pernyataan teks al Qur’an. Sementara menurut Muhammad Na’im muhammad Hani sa’i, bahwa poligami bisa di lakukan dalam kondisi terpaksa sebagai bentuk soslusi atas problem yang terjadi, seperti istri pertama terkenak penyakit lumpuh dan tidak bisa melayani hak suami, sedangkan suami ingin punyak keturunan, maka disinilah boleh berpoligami dengan niat yang baik dan memperhatiakan aspek maqashid poligami. Jika niatnya baik sesuai dengan tujuan syara’ maka insya Allah poligami itu menjadi amal yang baik dan bagian dari bentuk ibadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan wanita dalam islam&lt;br /&gt;Permasalahan kebebasan merupakan persoalan yang mendasar dan subtansial bagi seluruh manusia tanpa diskriminatif, persoalan ini menyangkut dengan amanah Allah yang di amanatkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kebebasan merupakan akses tiap manusia untuk lebih bertanggung jawab menjalankan tugasnya di muka bumi Ini, ia merupakan kebutuhan pokok bagi siapapun yang ingin maju dan bercemerlang. Jika kebebasan manusia terhalangi, terampas maka manusia yang posisinya sebagai khalifah tidak akan bisa menjalankan tanggung jawabnya. Manusia akan bisa menjalankan aktifitasnya dengan baik dan normal, dapat berkarir dan maju apabila ruang kebebasan terbuka lebar, tanpa ada tekanan otoritatif bagi pihak tertentu. Namun problemnya terletak pada perempuan, kalau masa jahiliah, ruang kebebasan bagi meraka terampas sehingga mereka tidak bisa menentukan pilihan hidupnya, tidak maju dan tetap dalam penindasan serta kegelapan bahkan mereka di komersialkan. Ini merupakan bentuk kejahatan yang besar pada wanita saat itu. Tetapi, jika kebebasan bagi kaum perempuan di berikan terlalu longgar dan lepas landas maka akan menimbulkan problem masyarakat sebagaimana kita lihat di negara-negara barat, kebebasan tanpa terkait dengan peraturan, bebas meminum khomer di manapun dan itu di lindungi oleh negara, bebes mempertontonkan dirinya dan bebas melakukan hubungan intim diluar nekah layaknya suami istri, homosek dan lesbi menjadi tak terkendali. Inilah arti kebebasan bagi masyarakat barat yang sampai detik ini menjadi prinsip hidup. Nah, kebebasan ini memicu terhadap kehancuran moral masyarakat dan bangsa, malah bukan membawa kemajuan yang bermartabat dan berjati diri. Kenapa hal demikian bisa terjadi, kerana kebebasan di barat di dukung oleh pemahaman liberal, agama Yahudi dan Oreantalis. Selama ini konsep hurriyah yang menjadi paradigma mereka dalam memahami masalah kebebasan lebih dalam justru kabur dan memicu masalah, karena pangkal masalahnya terletak pada konsep hurriyah mutlaqah yang mereka pegang. Jadi konsep kebebasan itu jauh berbeda dan bahkan bertentangan dengan konsep kebebasan dalam islam. Oleh karena itu Muhammad Emaroh, pemikir mesir, mengarang buku al tahrirul islami lim mar ah, sebagai bentuk untuk meluruskan pemahaman kebebasan dan sebagai bentuk penulakan dan mencerahkan kekaburan yang selama ini terjadi. Berkaitan dengan pradigma diatas said an Nusri mengingatkan sebagaimana di kutip oleh Khatijah an Nabrawi” wahai generasi muda..! janganlah sampai kalian menafsirkan hurriyah dengan tafsiran yang salah, agar kalian tidak lepas begitu saja. Sebab hurriyah baru bisa membawa kecemerlangan jika di pandu dengan hukum-hukum dan etika syariah serta dengan akhlak yang mulia”  &lt;br /&gt;Kaitannya dengan kebebasan wanita, islam adalah agama yang menjadikan kebebasan sebagai asas dan hak kehidupan, islam membebaskan manusia dari kehawatiran, kehinaan, kerendahan, kebodohan dan kebebasan dari segala bentuk kekerasan. Oleh karena itu islam memberikan hak kebebasan pada wanita serta membebaskan eksistensinya dari sifat yang hina dan tercela. Kebebasan yang di berikan kepada wanita sama dengan yang di berikan kepada kaum laki-laki. karena laki-laki dan perempuan merupakan dua entitas manusia yang saling bergandengan, satu sama lain saling membutuhkan, saling melengkapi. Oleh karena itu Allah berfirman” Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.(Q.S. an Najm: 45)  Syariat islam sangat menjungjung kebebasan wanita, bahkan kebebasan wanita yang di berikan islam sampai pada darajat yang paling tinggi. Syariat telah melindungi kaum perempuan dari segala bentuk yang dapat merobek-robek harga diri dan menjaga kehormatan mereka. Wanita bebas bergerak dalam jalur syariat, sebagaimana kaum laki-laki karena Islam sungguh menghendaki kebaikan dan kemajuan bagi perempuan. Kebebasan wanita mencakup segala aspek kebebasan yang di berikan oleh islam, tidak hanya dalam satu atau dua aspek saja. Ada kebebasan mencari harta, menuntut ilmu, mencari pasangan, beragama, befikir dan berpendapat; ada kebebasan berpolitik, berdemokratis dan sebagainya. Dengan kebebasan, wanita akan menghirup udara kenikmatan yang di berikan Allah SWT. dalam hidup ini. Sehingga apapun yang di lakukan oleh perempuan mendapat pahala  dan balasan Allah. Namun islam tidak melepaskan begitu saja, ada jalur-jalur dan kaidah yang harus di ikuti, ada larangan, pun ada perintah; ada halal, pun ada haram, ada hak, pun ada yang batil, ada maslahat, pun ada mafsadat. Jalur-jalur inilah yang harus di perhatikan. Sebagai kaum perempuan hendaknya berbangga dan bersyukur karena islam telah memelihara dan menjaga mereka dari arus kebebasan yang mutlak yang berdasarkan pada angan-angan dan hawa nafsu yang jahat. Kebebasan yang bersifat mutlak tentunya sangat bertentangan dengan naluri dan tabiat manusia sebagaimana di terapkan di barat, mereka hidup tak terkendali dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Berbeda dengan kebebasan yang berbasis syariah yang bertujuan untuk mengarahkan dan membingbing manusia dengan bingbingan akhlak yang mulia suapaya manusia tetap dalam kondisi mulia dan terhormat di hadapan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan wanita setelah kawin&lt;br /&gt; Ada pertanyaan penting yang harus di jawab, yaitu, apakah wanita memiliki kebebasan setelah kawin, sedangkan wanita harus tunduk dan patuh pada suaminya, dan apakah kepatuhan itu sebagai bentuk penghambaan? Kita bisa mengatakan bahwa salah satu keagungan dan kemuliaan islam begitu nampak dan mengkristal saat islam memberikan hak kebebasan pada wanita pada fase tersebut (setelah kawin). Kebebasan tetap ada bagi perempuan, baik yang sudah kawin atau belum. Apapun perkawinan dalam syariat islam bukan bentuk penghambaan istri kepada suami sebagaimana yang terjadi masa lalu sebelum islam. Melainkan perkawinan itu merupakan bentuk kerjasama yang saling melengkapi dimana masing-masing saling berupaya untuk mencari keridaan Allah SWT. dan akan mendapat balasan pahala yang setimpal. Kerjasama itu tidak dapat menapikan identitas masing-masing dari suami-istri bahkan masing-masing punya peranan husus yang berada jalur syariah dan juga memiliki tangung jawab agama dimana nanti akan di pertanggung jawabkan di alam akhirat. Oleh karena itu, menurut Khatijah an Nabrawi, bahwa istri tetap memiliki kebebasan menggunakan hak miliknya, kebebasan beribadah, kebebasan melayani suami, ia punya hak untuk memperlakukan atau menggauli suami dengan baik, hak mengataur keturunan, dan ia memiliki kebebasan dalam keberlangsungan hidup berumah tangga atau mengakhiri ikatan suami istri yang di kenal dengan” khulu’ –jika terjadi masalah besar– serta kebebasan mendidik anak-anaknya.   &lt;br /&gt; Meskipun istri harus tunduk kepada suami, tapi ketunddunkan itu bukan berarti bentuk penghambaan kepada suami, melainkan bentuk kepatuhan yang di perintahkan Allah SWT. Istri harus mau dan tunduk pada perintah suami selama dalam jalur syariat. Namun jika suami sewenang-wenang melakukan apa saja dalam kehidupan rumah tangga tanpa alasan yang di benarkan maka istri boleh menulak, semisal istri dalam keadaan tidak suci, lantas suami ngotot untuk mengaulinya, maka istri berhak dan bebas untuk menulak kehendak suami untuk melakukan itu, dan penulakan itu harus dengan cara yang baik dan beritika dan jika suami tidak tahu maka istri berhak memberi tahu bahwa dirinya keadaan tidak suci. Intinya kebebasan wanita yang sudah kawin sama dengan kebebasan yang di berikan islam sebelum berkeluarga, namun bedanya di sini kalau dalam keluarga lebih teratur dan masing-masing punya peranan husus. Memang seorang istri harus berhati-hati dalam menjalankan kehidupan rumah tangga kerena tanggung jawabnya semakin besar dan tidak boleh di sepelekan. Jadi meskipun istri berada di bawah pengawasan dan kekuasaan suami tidak di benarkan suami mengambil keputusan dalam kehidupan kelurga tanpa melibatkan musyawarah terlebih dahulu dengan melibatkan istri, sehingga apapun konsekuensi dari keputusan tersebut di tanggung bersama, tidak saling menyalahkan.          &lt;br /&gt;Konsep hurriyah &lt;br /&gt;Menurut Said an Nursi hurriyah, kebebasan adalah upaya tiap-tiap individu dengan berkometmen  pada sumber ajaran syariat, atau kebebasan yang terikat dengan kaidah-kaidah syara’ yang kemudian di kenal dengan al hurriyah asy Syar’iyyah . Sebenarnya dari konsep yang di tawarkan Said an Nursi disini merupakan upaya untuk membumikan syariat sebagai panduan dan kaidah dalam kehidupan manusia, dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi sehingga apa yang meraka lakukan menjadi terarah dan terkontrol, tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain. Dan itu menunjukkan bahwa beliau sangat konsisten terhadap ajaran syariah sebagai panduan hidup dan meyakini bahwa syariah adalah satu-satunya aturan yang di turunkan Allah untuk manusia.  &lt;br /&gt;Dalam pemikiran modern kebebasan itu telah mengalami pembaharuan dan menemukan makna baru karena mengikuti perkebangan zaman dan sebagai upaya untuk memberikan solusi aktif. Hal ini seperti pandangan D.r. Ahmad ‘Irfat, hurriyah, atau kebebasan adalah sebuah kesadaran diri yang akan melahirkan perubahan yang hakiki dalam kehidupan manusia, baik level individu maupun masyarakat. Menurut ‘Irfat, hal ini dalam pemikiran modern terbukti  dua kali. Pertama, terbukti pada Muhamad Ali, gubenur mesir, dimana dengan kometmen keimanannya terhadap kebebasan seperti kebebasan berkehendak dan menentukan pilihan sendiri serta lainnya mampu membangun masyarakat modern tanpa melihat siapapun. Menurutnya masyarkaat bodoh (primetif) akan kehilangan kebebasannya dan ia akan terus terbelenggu oleh kebodohannya dan menjadi bangsa yang tertinggal, lalu mereka tidak tahu eksistensi arti kebebasan itu sehingga tidak bisa untuk menerapkannya dengan cara yang benar. Kedua, terbukti pada Muhammad Abduh, yang mempercayai dan membenarkan kebebasan manusia sebagai sebuah keadilan, persamaan, dan sebagai hak-hak dan kewajiban. Menurutnya hak yang paling utama adalah hak pengatahuan agar manusia keluar dari ketertinggalan, dan hak mendapatkan sarana ilmu- pengatahuan. Dari sini, Abduh membenarkan kebebasan manusia dalam mengepresikan diri dan menentukan pilihannya merupakan jalur menuju proses modernesasi yang mengglobal dengan tujuan untuk membangkitkan dan menggairahkan kembali agar keluar dari kefakuman, kejumudan, kemandegan dan ketertinggalan dengan tetap kometmen pada keimanan sebagai asas masyarat ideal dan modern.  Di sini Abduh menilai bahwa kemajuan dan kegemilangan manusia itu terkait dengan masalah kebebasan, apalagi kebebasan untuk mendapkan ilmu pengatahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi hurriyah&lt;br /&gt;Terkait dengan pandangan Said an Nursi tentang al hurriyah a-Syar’iyyah (kebebasan berbasis syariah) yang kami sebutkan di atas, sebagaimana di kutip oleh Khatijah an Nabrawi, setidaknya pokok kebebasan syariah berpangkal pada hal berikut:&lt;br /&gt;• Hurriyah al ‘Aqĭdah (kebebasan memilih kayakinan). Sebagaimana Allah berfirman” Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".(Q.S. an Kahfi: 29)&lt;br /&gt;• Hurriyatul fikri wal-rakyi (kebebasan berfikir dan berpendapat). Allah berfirman” Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.(Q.S. al A’raf: 179)&lt;br /&gt;• Al-hurriyatul as siyâsiyah (kebebasan berpolitik). Allah berfirman” Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. (Q.S. Asy Syuura: 38)&lt;br /&gt;• Al Hurriyah al madaniyyah (kebebasan sipil). Kebebasan ini mencakup pada kebebasan jual beli, kebebasan pekerjaan, kebebasan hidup manusia; jiwa, harta dan harga diri  aman dari bentuk kejahatan, pembunuhan, pencurian, perampasan dan lainya.  &lt;br /&gt;  Dari konsep hurriyah yang di tawarkan said an Nursi di atas berikut pembagiannya, yaitu sebenarnya pembebasan wanita berlandaskan pada oresinalitas agama yang cocok dengan perkemabangan zaman, di mana beliau menekankan pentingnya peran wanita dalam kehidupan dan kontribusi positif sehingga  mereka dapat membangun kedudukan dirinya serta masyarakat sekitarnya yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Di sinilah kata Khatijah an Nabrawi, bahwa Said an Nursi dalam menyuarakan dahwahnya untuk membebaskan kaum wanita itu menggunakan thariqan ma’nawiyan (pendekatan yang bersifat maknawi/ pendekatan berbasis moral) sehingga lebih efektif dan efisien. Karena hal itu dapat membangkitkan potensi aqidah yang terpendam dalam sanubari mereka (wanita) kemudian akan terpancar cahaya yang dapat menuntun dirinya dan orang –orang sekitarnya.  Dari empat kebebasan yang di klasifikasi oleh an Nursi tadi berlaku bagi seluruh manusia, laki-laki maupun perempuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-8599168987681060304?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/8599168987681060304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=8599168987681060304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/8599168987681060304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/8599168987681060304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2009/07/isu-isu-dan-wacana-feminitas.html' title='Isu-isu dan wacana feminitas'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-623090713267091620</id><published>2008-10-14T11:43:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T11:47:21.612-07:00</updated><title type='text'>Memahami Pluralisme Agama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Al-Qordhawi-ketua persatuan ulama internasional- menegaskan bahwa sesungguhnya gagasan mengenahi pluralisme agama tidaklah bertentangan dengan teks-teks syariat dalam islam. Seperti Firman Allah “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(QS. Al ‘imran[ 19]&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan ayat lain “&lt;i&gt;Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.&lt;/i&gt;(QS. Al ‘Imran [85].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Lebih lanjut dia mengatakan bahwa di dunia ada satu agma yang di terima di sisi Allah dan ada beberapa agama yang tidak di terima di sisi Allah. Sebgaimana kebenaran itu tidaklah berbilang, melainkan kebenaran itu adalah satu, yaitu agama islam yang di bawa oleh para nabi mulai nabi Nuh hingga nabi Muhmmad saw. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beliau melanjutkan pendapatnya” hanya saja islam sebagai agama yang benar bukan berarti menafikan adanya agama-agama lain selain islam. Hal itu karena di jelaskan dalam al Qur’an “&lt;i&gt;Barangsiapa mencari agama selain agama Islam.&lt;/i&gt;” Bunyi ini mengisyaratkan bahwa selain agama islam masih ada agama lain. Sebagaimana dalam firman Allah&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt; (QS. Al Kaafirun[6] . mereka adalah penganut Wastani (paganisme). Dan juga dalam firman Allah “ &lt;i&gt;Katakanlah: "Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. &lt;/i&gt;(QS. Al Maidah [ 77] menegaskan bahwa masih ada agama lain selain islam dan ia punya hak hidup meskipun keyakinannya salah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Hal itu di sampaikan oleh Qordhawi dalam acara “&lt;i&gt;al Syriatu wal hayat&lt;/i&gt;” bekerja sama dengn chennel televisi jazerah Arab, pada hari Ahad tanggal tujuh belas pebruari, dengan tema” &lt;i&gt;al Ta’addudiyyah al Diniyyah wal qiyamut Tasamuh al Islmi&lt;/i&gt;”, pluralisme agama dan nili-nilai toleransi islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Penulis menegaskan bahwa “ sesungguhnya Al Qur’an yang mulia itu mengakui adanya pluralisme agama dan ia di anggap sebahagian dari kehendak Allah swt. Allah berkehendak agar manusia berada di atas corak yang beragam. Sedangkan kehendak Allah tidaklah lepas dari hikmah-hikmah, karena kehendak itu menunjukkan adanya hikamah ilahiyyah. Gagasan ini di perkuat dengan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;firmn Allah swt &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;( QS. Hud[118-119]. Dijelaskan bahwa kalangan mufassir banyak menfsirkan ayat ini dengan berbeda-beda. &lt;i&gt;Al Basyar &lt;/i&gt;( manusia) adalah tingkat kecerdasan dan keinginannya berbeda-beda. Karena itu, maka mereka berbeda-beda pula dalam menyikapi agama-agma. Allah berfirman “&lt;i&gt;Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?&lt;/i&gt;(QS. Yunus[99]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Pluralisme dan persataraan antar agama&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dalam hal ini penulis menjelaskan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bahwa yang di maksud dengan gagasan pluralisme agama adalah bukan berarti semua agama itu sama. Hal itu karena di duni paling tidak di bagi dua klasifikasi; agama &lt;i&gt;samawi&lt;/i&gt; dan agama &lt;i&gt;wadh’i &lt;/i&gt;(buatan manusia) dan agama samawi berbeda-beda. Tetapi masing-masing agama memilki hak yang sama, yaitu berhak adanya dan berhak hidup serta manusia berhak berinteraksi sesuai dengan agama masing-masing.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Pengecapan orang lain dengan label kafir, yang merendahkan posisi dan kedudukan orang lain tidaklah secara mutlak. Karena tiap agama mengakui bahwa agamalah yang paling benar dan yang lain tidaklak benar dan dialah yang mukmin. Sedangkan yang lain adalah kafir. Di jelaskan bahwa kalimat &lt;i&gt;al Kufru&lt;/i&gt; memilki beberapa makna, kadang kalimat ini bermakna kufur kepada Allah, seperti orang yang mengingkari dan tidak mengimani Allah dan hari akhir; terkadang kalimat kufur berarti kafir secara agama, seperti meyakini bahwa orang yahudi dan nasrani adalah kafir karena ia tidak mengimani bahwa nabi Muhmmd adalah utusan Allah dan al Qur’an yang di turunkan kepadanya adalah kalam Allah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Qordhawi menegaskan tidak boleh bersikap toleransi dalam masalah kufur dalam agama. Hanya saja beliau mengingatkan bahwa sesungguhnya tidak boleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menghakimi orang lain dengan label&lt;i&gt; kâfir&lt;/i&gt; sesuai dengan makna pertama yang di jelskan bahwa ia adalah seorang atheis dan mengingkari kepada Allah. Hal itu karena apabila ia beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, beriman bahwa hak yang di sembah hanyalah Allah dan beriman kepada nilai-nilai akhlak yang mulia secara umum maka tidak akan di cap kafir. Melainkan ia di cap kafir jika tidak mengimani risalah Allah swt.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Oleh karena itu, yang di maksud dengan pluralisme agama bukan berarti semua agama benar. Tetapi makna pluralisme di sini adalah mengakui hak orang lain dalam kehidupan, semisal kita sama-sama bersikap toleran sama mereka yang beda agama , juga kita bekerja sama dengan mereka untuk membantu masyarakat. Semisal menyikapi anti aliran atheis, dan anti paham serba membolehkan, anti kejahatanpublik dan anti sikap memusuhi atas hak orang lain serta harus dekat dengan masyarakat lemah, seperti masyarakat Palestina. jadi hak setiap penganut agama adalah meyakini bahwa agmanya yang paling benar. Jika tidak, mengapa manusia masih menganut atas agam itu jika tidak meyakini bahwa agamanya yang paling benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di jelaskan bahwa pluralisme agama merupakan bagian dari sunnatullah/hukum Allah. Allah swt menciptakan alam semesta dengan beraneka ragam warnanya. Hal ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat di pungkirin entitasnya di tengah-tengah masyarakat. Jadi sangat heran jika ada orang menulak gagasan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-623090713267091620?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/623090713267091620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=623090713267091620' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/623090713267091620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/623090713267091620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2008/10/memahami-pluralisme-agama.html' title='Memahami Pluralisme Agama'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-515164395476498930</id><published>2008-10-06T07:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T07:53:40.548-07:00</updated><title type='text'>Telaah konsep Nasikh Mansukh dan penfsiraanya terhadap al Qur'an</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tidaklah Kami hapus (naskh) suatu ayat atau melupakannya, kecuali Kami datangkan yang lebih baik dari sejenisnya. Tidaklah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;. (QS. 2;106)&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sketsa historisitas &lt;i&gt;Nasikh-Mansukh&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;NASIKH-MANSUKH&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kalau di telisik dari segi historisitas-nya dan perkembangan-nya mungkin tidak terlalu menarik dan memukau serta marak seperti disiplin ilmu-ilmu lainnya. Semisal ilmu kalam yang berkembang terkait dengan konflik-konflik ideologi politik, filsafat luar(barat) dan semacamnya sehingga sangat berpengaruh dalam kancah pemikiran. Dan juga ilmu tefsir yang juga sebagian di pengaruhi oleh bias politik, fanatisme dan doktrin-doktrin yang ada serta semacamnya. Di katakan tidak menarik karena konsep ini lahir sangat sedarhana dan tidak ada konflik-konflik luar selain hanya di latar belakangi oleh faham penafsiran yang berbeda dan cara pandang terhadap hukum-hukum yang terkangdung dalam ayat-ayat al Qur'an. Selain itu karena ia hanya sebatas konsep yang di bangun hanya untuk menghindari dua teks yang kontradiktif. Melebihi dari itu, juga karena terjadinya perubahan kasus-kasus hukum pada masa nabi, semisal larangan ziarah kubur yang kemudian di perbolehkan dan lainnya. Diskursus-diskursus ini di kalangan ulama dan para sarjana muslim berlangsung dengan suasana yang begitu dingin tapi cukup mewarnai cakrawala wawasan ilmu keislaman dan keberagamaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;    Meskipun demikian kenyataanya, namun yang menjadi persoalan di sini bukan menarik atau maraknya, melainkan di sini terkait erat dengan masalah hukum-hukum al Qur'an yang bersifat praktis yang menyangkut dengan persoalan ibadah dan sosial. Semisal perubahan arah kiblat dari baitul maqdis ke ka'bah, bolehnya kawin mut'ah selama tiga hari pada perang &lt;i&gt;uhud &lt;/i&gt;kemudian tiba-tiba di haramkan. Oleh karenanya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;konsep ini tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan turunnya al Qur'an yang sebagian di latarbelakangi faktor realitas sosial pada waktu itu baik periode &lt;i&gt;makki&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;madani&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;        Dimaklumi&lt;/i&gt;, bahwa al Qur'an adalah kitab yang di turunkan untuk membina dan membingbing manusia kejalan yang benar, nilai-nilai ajarannya tidak lepas dari nilai-nilai yang mengandung kemaslahatan, di samping itu untuk mengatasi problem kemanusiaan pada waktu itu sehingga turunnya bersifat garadual (&lt;i&gt;tadrǐj&lt;/i&gt;) baik ayat makkiyyah dan madaniyyah. Proses semacam ini mencerminkan signifikansi dan fleksibilitasnya dalam rangka pemecahan problem ummat, pada akhirnya makna yang ada terasa di nikmati oleh umamt. Karena fenomena social-kultural dan ruang lingkup selalu berubah atau dalam kondisi suatu komonitas berbeda dengan komonitas lain sehingga hukum yang berlaku sudah tidak layak di pakai maka meniscayakan adanya keputusan (hukum) baru, semisal pada awal-awal islam, bagi orang yang berpuasa tidak di perbolehkan melakukan hubungan seks, makan dan minum di malam hari setelah bangun tidur. Penekanan atuarana semacam hal ini sangat memberatkan sehingga masyarakat pada waktu itu hampir kehilangan kesabarannya dalam menahan kejolak bihari (&lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;) maka kemudian hal itu di perbolehkan hingga terbit fajar, sebagaiamana di jelaskan dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; al Baqoroh&lt;br /&gt;        Kita mesti meyakini bahwa kitab-kitab para nabi terdahulu sudah mengalami pemalsuan, penyelewengan dan perubahan isi, oresinalitasnya tidak bisa di percaya lagi akibat tangan-tangan pihak mereka yang tidak bertanggung jawab. Hal itu sudah di refleksikan dalam beberapa ayat di kitab al Qur'an. Di samping itu juga sebagian isinya di mansukh oleh kitab al Qur'an yang terjamin keasliannya hingga kini bahkan sampai hari kiamat. Yang demikian untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada karena al Qur'an berupa kitab yang peka dengan kondisi sehingga ia mampu menjawab problematika yang berkembang.   &lt;br /&gt;        Pada awal dekade islam, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perdebatan &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; menjadi tren hangat yang di kobarkan oleh komonitas yahudi, mereka terlibat dalam dialog dan perdebatan sengit dengan Nabi Muhammad SAW. berbagai &lt;i&gt;subhat&lt;/i&gt; pemikiran yang mengandung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penghinaan, mereka kemukakan dan lontarkan berikut alasan-alasannya yang ahirnya berujung atas pengingkaran mereka. Salah satu pemikiran yang di kemukakan mereka adalah "Tidakkah kalian melihat Muhammad? Ia menyuruh sahabatnya (untuk melakukan) suatu hal, kemudian mereka di larang melakukan hal itu, justru ia menyuruh untuk melakukan hal yang sebaliknya. Ia sekarang bependapat tapi esok harinya pendapatnya ia tarik kembali. Hal demikian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bukan tugas para Nabi dan al Qur'an hanya kata-kata Muhammad yang muncul dari dirinya sendiri, ia adalah kalam yang sebagian dengan sebagian saling bertentangan".(red. Tafsir wasith, Grend syeikh al azhar). Allah maha mengatahui atas segala-galanya, ia tidak akan membiarkan &lt;i&gt;subhat-subhat&lt;/i&gt; pemikran yang di hembuskan oleh mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seputar syari'at islam menjamur dan beredar luas, maka Allah menurunkan ayat di atas untuk menyangkal dan menghilangkan ide-ide tersebut dalam hati orang-orang mukmin sehingga keimanan mereka semakin bertambah.&lt;br /&gt;        Salah satu contoh di atas adalah perdebatan antara kaum muslimin dan orang yahudi mengenai arah kiblat. Disebutkan dalam hadis bahwa Rasulullah saw setelah hijrah kemadinah maka ketika ia salat menghadap kearah baitul Maqdis selama kurang lebih enam belas atau tujuh belas bulan sebelum beliau diperintah untuk menghadap ke ka'bah. Ketika Rasulullah berpindah arah ke ka'bah dalam salat ternyata memicu kritikan dan hinaan orang musrik yang tokohnya adalah orang-orang yahudi. Mereka berkata" sesungguhnya Muhammad telah kacau dalam agamanya, dan ia hampir kembali kepada agama kita (yahudi) sebagaimana ia kembali ke arah kiblat kita (baital maqdis). Di samping itu ada pihak yahudi mengatakan" andaikan muhammad seorang nabi yang haq niscaya ia tidak akan meninggalkan kiblat para nabi sebelumnya, berpaling kearah lain, dan apa yang ia lakukan hari ini, besok ia tinggalkan. Kasus inilah yang menjadi awal mula kemunculan kansep &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; dan kemudian kajiannya terus berkembang di kalangan ulama. Di sebutkan bahwa perubahan arah dalam salat semata-mata mengandung kemaslahatan yang lebih besar, sebagaimana yang di jelaskan dalam ayat di atas.&lt;br /&gt;        Secara silogisme bahwa kenyataan tersebut, merupakan hakikat empiris dalam sejarah &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; dan itu terjadi bukan tanpa makna melainkan karena demi kemaslahatan ummat. Tapi jika di teliti dalam kasus sejarah di atas nampaknya focus pada ajaran sebelumya sebab arah salat kebaital maqdis merupakan syari'at nabi terdahulu dan kiblat orang-otang yahudi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dari fenomina sejarah membuktikan bahkan para ulama sepakat bahwa &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; mesti terjadi pada ajaran kitab-kitab sebelumnya meskipun tidak kesemuanya dan juga pada taradisi jahiliyyah. Seperti menghapus hukum mengawini istri bapak (ibu tiri), dan kewajiban puasa pada hari 'Asyurǎ' serta lainnya. Namun dalam syari'at islam belum ada kesepakatan mengenai hal ini bahkan terjadi pro-kontra, karena hal itu masuk pada wilayah ijtihad, dan ayat &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; memilki ambiguitas makna.&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        Pada paroh ahir abad kedua muncul Imam syahi'I sebagai perintis pertama ilmu usul fiqh dan ia juga ikut serta merumuskan konsep ini dalam al Qur'an ketika terjadi pertentangan, dan juga ulama-ulama lainnya……. Bersambung ( red. Sendiri) &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Signifikasi &lt;i&gt;" Nasikh-Mansukh"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;        Sebelum beranjak lebih jauh mengenai topik ini, ada baiknya kita elaborasi dan telusuri terlebih dahulu definisi para ulama tentang &lt;i style=""&gt;nasikh &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;mansukh&lt;/i&gt;. Karena bagaimanapun sebuah persoalan tidak akan tersentuh dengan baik walau tidak bisa dikatakan sempurna bila tidak mengetahui kontek bahasa dari pengertian diatas.&lt;br /&gt;        Secara etimologi &lt;i style=""&gt;nasikh &lt;/i&gt;berasal dari kata &lt;i style=""&gt;(naskh) &lt;/i&gt;menghapus atau &lt;i style=""&gt;(izalah) &lt;/i&gt;mem­buang &lt;i style=""&gt;(izalatu al sai’i wa i’dâmuhu) &lt;/i&gt;yang berarti menghapus atau membuang suatu yang ada sebelumnya kemudian menguatkannya dengan yang baru. Sebagaimana firman Allah &lt;i style=""&gt;“Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu dan Allah menguatkan ayat ayat-Nya” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. 22 ; 59)&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Itu pengertian yang pertama.&lt;br /&gt;        Kedua, &lt;i style=""&gt;naskh &lt;/i&gt;berasal dari kata &lt;i style=""&gt;(Baddalah) &lt;/i&gt;mengganti, artinya sesuatu yang ada sebelumnya diganti dengan yang baru. Firman Allah &lt;i style=""&gt;“Dan apabila Kami letakkan sesuatu ayat ditempat yang lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturun­kannya” &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. 16; 101)&lt;/span&gt; Seperti halnya terangnya siang digantikan oleh gelapnya malam yang keduanya berbeda tapi tidak bisa dipisahkan. Karena yang melakukan hal itu adalah yang Satu, Allah Yang Maha Kuasa &lt;i style=""&gt;(Huwa an Nasikh).&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; Juga bisa berarti memindah, artinya memindah sesuatu dari tempatnya ketempat lain. Dalam proses memindah maka sesuatu itu harus terjaga tidak boleh berubah ztatnya tetapi yang berubah adalah tempatnya. Misalkan, jika kita menyalin atau mengutip suatu kitab maka bahan yang di tulis tidak boleh di rubah, kita hanya sebatas memindahkan bahan tersebut ke lembaran-lembaran baru. Dalam firman Allah" &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;(Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. al Jaazyiyah:29&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;) Contoh lain, seperti Nabi adam dan Sitti Hawa' di keluarkan dari surga menuju ke tempat lain, yaitu dunia&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;. Sebagaimana firman Allah"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Kami berfirman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;: "&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Turunlah kamu semuanya dari surga itu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;! &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. al Baqoroh:38)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Selain itu, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; juga berarti membatalkan, artinya membatalkan sesuatu dan menempatkan sesuatu yang lain, atau menghilangkan sesuatu dan diganti oleh sesuatu yang lain. Dalam firman Allah"&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. al Baqoroh:264)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        Secara terminologi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Naskh &lt;/i&gt;berarti mengganti hukum syar’i yang ada sebelumnya de­ngan hukum syar’i baru &lt;i style=""&gt;(Raf’u al hukmi syar’i bi dalîlin syar’iin), &lt;/i&gt;yang dimaksud&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meng­ganti hukum syar’i adalah hilangnya beban atau kesulitan manusia terhadap hukum tadi dan memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya. Baik secara hukum ataupun bacaan &lt;i style=""&gt;(tilawah). &lt;/i&gt;Seperti halnya kewajiban puasa Asyurâ diganti dengan kewajiban puasa Ra­madlan, perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis kepada Ka’bah di Makkatul Mukar­ramah, hukum kawin mut'ah yang dibolehkan selama tiga hari pada perang &lt;i&gt;uhud&lt;/i&gt; kemudian di haramkan, minum khomer dan sebagainya. Dan yang di maksud dengan "hukum syar'i" mencakap pada al Qur'an, sunnah baik dari segi perkataan, tindakan dan penetapan. Menurut al Laist &lt;i&gt;Naskh&lt;/i&gt; di fahami sebagai menghilangkan sesuatu yang berlaku sebelumnnya kemudian di hapus dengan yang baru.&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Paradigma penafsiran &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt;; versi ulama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;ما ننسخ من أية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tidaklah Kami hapus (naskh) suatu ayat atau melupakannya, kecuali Kami datangkan yang lebih baik dari sejenisnya. Tidaklah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu”. (&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;QS. 2;106)&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Al Thabari salah satu ulama klasik yang setuju dengan konsep atau teori ini menafsirkan bahwa yang dimaksud &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;"Tidaklah Kami hapus (naskh) suatu ayat"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; adalah Allah tidak memindahkan hukum dari suatu ayat kepada hukum lain kemudian kami gantikan dan rubah hukum itu melaikan kami datangkan yang lebih baik. Semisal merubah sesuatu yang di halalkan menjadi haram, dan yang di perbolehkan menjadi sesuatu yang dilarang atau sebaliknya. Hal itu, menurut al Thabari, hanya terjadi pada hal-hal yang menyangkut perintah, larangan, pembolehan dan pencegahan. Adapun ayat-ayat yang bersifat informatif maka tidak perlu ada &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dari penafsiran al Thabari dapat di simpulkan, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;petama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;naskh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;menurutnya adalah memindah, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;kedua,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; Ia menambahkan kalimat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;"hukmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;" dalam tafsirannya, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, beliau adalah peletak batu pertama &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tentang kaidah-kaidah &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, seperti, amar, nahi, pencegahan, pembolehan, sedang ayat yang bersifat informatif tidak boleh ada &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;nasikh-mansukh&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; Kaidah inilah yang kemudian terwarisi oleh kalangan fuqoha' ketika mereka hendak meletakkan kaidah dan aturan dalan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;. Di sebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kalimat "&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;hukmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;" dalam konteks penafsiran &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;al Naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; adalah sahabat Ibn mas'ud. Sedang Ibn 'Abbas menafsirkan dengan tidak menambahkan kata &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;hukmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; yaitu sebagaimana adanya," kami tidak menggantikan suatu ayat". Hanya saja kalimat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;nansakh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; oleh beliau di tafsirkan dengan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;nubaddilu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;. Disini karena al Thabari sangat jeli dan peka maka interpretasi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;naskh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;menurut kedua sahabat itu di komprasikan dan di padukan sehingga baginya tidak terjadi dikotomis dalam penafsiran karena kedua-duanya adalah sahabat yang pakar di bidang tafsir. Sikap al Thabari boleh dibilang moderat yang berposisi menjembatani antara kedua di atas. Penafsiran al Thabari juga mendapat afresiasi dukungan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahkan beliau dalam penafsiran ayat di atas merujuk pada penafsiran al Thabari. Begitu juga Abi Bakr Jabir al Jazairi –termasuk ulama yang mengakui konsep ini– menafsirkan seperti penafsiran diatas hanya beliau dalam tafsirnya lebih menekankan dengan penjelasan mendetail tentang konsep ini. Abi Bakr al Jazairi dalam salah satu penjelasannya bahwa Allah swt mampu untuk melupakan dan menghapus sesuatu yang ia kehendaki dan itu termasuk salah satu manefestasi dan bukti kekuasaannya. Dan juga menurutnya penghapusan hukum dengan mendatangkan hukum baru, itu disesuaikan dengan kebutuhan ummat dan tuntutan dalam kehidupan baik dari sisi spiritual dan material sehingga kemaslahatannya dapat di rasakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Berbeda dengan Syekh Muhammad 'Abduh dalam&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; tafsir al mannar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, sebelumnya, ia menyebutkan bahwa para mufassir dalam menafsirkan ayat di atas ada dua cara: pertama penafsiran ayat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;    “Tidaklah Kami hapus (naskh) suatu ayat atau melupakannya, kecuali Kami datangkan yang lebih baik dari sejenisnya. Tidaklah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;”. (QS. 2;106) di gabungkan dengan ayat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;        Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya Padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui"&lt;/i&gt;(QS. al Nahl:101)&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Penilaian Abduh, berarti menurut mereka &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; bermakna mengggantikan, yang berarti, kami menjadikan satu ayat sebagai pengganti dari ayat lain dan penggantian ini saya jadikan lebih baik dari yang diganti atau setidaknya sama. Ia melihat bahwa &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; menurut mereka adalah menghapus bacaan dalam al Qur'an. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kemudian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;'Abduh menyebutkan dalam tafsirnya, menurut para mufassir yang di maksud &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;al nisyan&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dalam rentetan ayat tersebut di tafsirkan bahwa Allah swt memerintahkan agar tidak membaca ayat itu (yang di gantikan dengan ayat lain) sehingga di lupakan. Menurut 'Abduh penafsiran ini juga bermakna &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;tabdil&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;( menggantikan). Kedua, yang di maksud &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; adalah menghapus hukum suatu ayat. Rona penafsiran ini lebih umum dari yang pertama karena ia mencakup pada penghapusan hukum, dan juga penghapusan hukum sekaligus bacaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Sebagian para Mufassir mengatakan bahwa yang di maksud di atas bukan berarti menghapus ayat itu sendiri karena ayat itu tidak perlu di hapus, melainkan hukumnya itu yang dirubah sesuai dengan perubahan ruang lingkup waktu-tempat. Jika suatu hukum di syari'atkan pada waktu tertentu lantaran kebutuhan mendesak kemudian kebutuhan itu sudah tidak ada dalam masyarakat maka secara bijak hukum itu juga harus di hapus dan di gantikan dengan hukum yang cocok dengan waktu dan masa sehingga hukum yang menggantikan itu lebih baik dari yang pertama karena fungsinya untuk kemaslahatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;    Abduh sebelum mengambil silogisme dalam penafsirannya, terlebih dahulu beliau mempertimbangkan antara ayat&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;ما &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;ننسخ من أية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;dan ayat&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;وإذا بدلنا أية مكان أية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;maka yang pertama di akhiri dengan bunyi ayat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;الم تعلم أن الله على كل شيء قدير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;sedang ayat yang kedua di akhiri denga bunyi &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;والله أعلم بما ينزل قالوا إنما أنت مفتر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Beliau lebih memperhatikan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;uslub&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; al Qur'an dengan munasabahnya. Menurutnya, penyebutan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;al 'ilmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;al Tanzil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;iftira' &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(mengada-ada) menunjukkan bahwa yang di maksud ayat-ayat tersebut adalah &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;ayatul Ahkam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Namun lebih jauh, bagi 'Abduh dengan mencocokkan ayat lain bahwa makna yang benar adalah ayat ini merupakan salah satu bukti atau dalil yang di diturunkan oleh Allah untuk menegaskan dan memperkuat bukti kenabian para Nabi. Artinya&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ia menafsirakan &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;ما ننسخ من أية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;kami jadikan ayat itu sebagai dalil atau bukti atas kenabian seorang Nabi. Alasan beliau, karena kalimat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;min âyatin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; secara bahasa adalah dalil, hujjah (argumentasi) dan petanda atas keabsahan sesuatu. Oleh karena itu, kumpulan al Qur'an bisa di sebut-ayat-ayat karena kei'jazannya menjadi hujjah atas kebenaran Nabi, dan menjadi bukti bahwa kebenaran itu di dukung oleh bukti tersebut sebagai wahyu dari Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Muhammad al Ghazali dalam karyanya"&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; Kaifa nata'ǎmal ma'al Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;" berbeda dengan ala penafsiran di atas, ia menjelaskan bahwa ayat dalam al Qur'an di bagi dua: ayat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;taklifiyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;takwiniyyah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; Ayat yang di maksud dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; al Baqoroh 106 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah ayat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;takwiniyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, bukan ayat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;taklifiyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Makna &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;takwiniyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; di sini adalah kejadian-kejadian di luar kebiasaan (mukjizat) untuk menegaskan dan menguatkan atas kebenaran para Nabi. Mukjizat itulah yang selalu berubah sesuai dengan perubahan zaman. Adapun ayat-ayat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;taklifiyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; beliau lebih melihat fakta yang terkandung dalam firman Allah"&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style=""&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;D&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;an apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya Padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(QS. al Baqoroh:101) Beliau mengutip perkataan al Khǎzin, "sebenarnya ayat ini muncul untuk menulak asumsi orang musyrik bahwa sesungguhnya Muhammda menetapkan suatu hukum kemudian ia menghapusnya". Kemudian ayat ini seraya bertanya' buktikan! manakah hukum-hukum yang di hapus yang di persoalkan oleh orang-orang musyrik?. Pada kenyataanya tak seorangpun dari orang musyrik yang mengatakan bahwa sesungguhnya muhammd menetapkan suatu hukum syari'at kemudian ia menghapusnya. Menurut al Ghazali, tidak ada orang yang mengatakan seperti itu, karena tidak ada istilah hukum yang diturunkan di makkah di hapus oleh ayat makkiyah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Sikap ulama terhadap &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;; pro-kontra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Telaah dan diskursu al Qur'an selalu menjadi sumber interaksi dan bahan dialog bagi para serjana muslim era klasik-modern, dengan berbagai sarana di siplin keilmuan yang di pakai sebagai piranti untuk membantu mengungkap makna yang termuat dalam al Qur'an, dan berbagai nuansa makna yang terungkap dan egsegesinya yang beragam merupakan predikat dan prestasi mereka yang harus di afresiasi meskipun sebgian interpretasinya dan pemahamannya harus di kritisi secara selektif dan di kaji lebih lanjut. Sebagai sebuah keniscayaan atas varian dan transformasi interpretasi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; serta tingkat pemahaman yang berbeda terhadap teks dengan melakukan ekplorasi terhadap teks-teks yang mengulas tuntas satu tema dan dengan berbagai pendekatan konkret ternyata silogisme para ulama terbagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dua kalompok dalam menyikapi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Kalompok pertama mengakui adanya sejumlah ayat yang bertentangan antara dua teks. Kalompok kedua menulak adanya kontradiktif dalam al Qur'an. Kalompok pertama berpijak pada prinsip awal bahwa secara umum Allah swt adalah zdat yang maha kuasa dan maha mengatahui keadaan hambanya sehingga ia dapat menggantikan hukum yang berlaku dengan hukum baru sesuai yang di kehendakinya dan sesuai dengan kebutuhan ummat serta tuntutan spiritual dan materialnya. Penggantian itu semata-mata untuk kemaslahatan dan nilai kemampaatannya bagi manusia lebih tinggi. Selain itu, mereka berasaskan pada ayat yang di sebutkan diatas. Sebagai misal larangan dan pembolehan ziarah kubur, dan lainnya. Nah, untuk menghindari dari pradoksal yang ada maka kalompok ini secara silogisme mengambil langkah progresif dengan membangun konsep al ternatif "&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;" karena memurutnya konsepsi semacam ini sangat signifikan dan urgen dalam konteks menghindari pertentangan dan pemahaman akan syari'at. Konsep ini meskipun pada tahap awal masih belum mendapat pengakuan formal oleh sejumlah ulama sebagai sebuah bagian disiplin &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;'ulủmu al Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, namun, pada perkembangannya, akhirnya konsep ini di masukkan pada kategori disiplin ilmu tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;            Sejauh ini, hemat penulis, bahkan pungsi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; tidak hanya berhenti di situ, melainkan ilmu ini juga di angkat menjadi parasyarat bagi orang yang hendak melakukan proses interpretasi terhadap teks, jika prasyarat ini tidak terpenuhi maka ia tidak di akui sebagai seorang mufassir. Sebagai pernyataan sikap pengakuan atas signifikansi konsep ini maka bisa di lihat dari fakta litetaratur dan berbagai karya independen tradisional yang secara husus mengulas tuntas tentang konsep ini. Kalompok ini semisal al Thabari, imam syafi'ie, Ibn Katsir dan ulama usul serta lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Adapun sikap kalompok kedua, semisal Abu Muslim al Asfihani, al Hadhri, Muhammad 'Abduh, Muhammad al Ghazali, dan Qordawi pada era sekarang mereka meyakini bahwa di dalam al Qur'an tidak terdapat kontradiksi dari sisi makna-lafadnya. Menurut Qordawi dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;kaifa nata'amal ma'al Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, asumsi adanya penghapusan ayat dalam al Qur'an tidak memiliki referensi atau bukti konkret. Kemudia beliau juga menjelaskan bahwa ulama yang mengakui adanya &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;dalam al Qur'an dan yang mengklaim bahwa "ayat ini dalam surat demikian adalah di mansukh" maka tidak memilki dalil yang qa'i atas kehapusan hukum itu. Kalompok ini secara umum sangat kontras bahkan menampakkan sikap kritiknya terhadap kalompok pertama ketika mengkaji ayat-ayat yang di hapus. Bahkan menurutnya, bahwa sebagian ulama yang menerima adanya konsep ini terlalu berlebihan dalam masalah &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; sehingga banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah sabar, memberi maaf, toleransi dan ayat-ayat dakwah dengan cara yang lemah lembut, hikmah dan dengan cara dialogis di mansukh dengan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;ayatul saif&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Semisal Ibnul 'Arabǐ yang mengatakan bahwa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; al nahl: 125, al Nahl: 127,al Muzammil: 10 di mansukh dengan ayat &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;saif&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; (perang). Bahkan sebagian mufassir menilai bahwa ayat perang (&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;saif&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;) menasakh lebih seratus dua puluh ayat. Sejauh penilain penulis jika memang itu terjadi maka jelas al Qur'an sebagai aturan hidup terkesan radikal dan akan kehilangan toleransinya sehingga ummat islam jika berhadapan dengan musuh harus di bunuh tanpa ada diplomasi atau proses sebelumnya. Kalompok ini menulak jika konsep ini di terapkan pada syari'at al Qur'an, namun jika dalam konteks syari'at nabi sebelumnya maka juga mengakuinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;        Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; kalompok lain yang juga tidak ketinggalan dalam menyikapi kaonsep ini, sebut saja kalompok ala mu'tazilah. Tampaknya kalompok ini sama dengan kalompok yang kedua. Mereka mengatakan bahwa tidak di akui keabsahannya jika ada nas yang di mansukh bacaannya sementara hukumnya tidak, atau sebaliknya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; beberapa alasan yang di kemukakan oleh mereka: (1) Nas terbentuk untuk sebuah hukum, sedangkan hukum hanya bisa di tetapkan melalu nas. Jika salah satunya di hapus maka salah satu yang lain juga harus terhapus. (2) Menghapus bacaan tanpa menghapus hukumnya atau sebaliknya adalah sikap masa bodoh atau irrasional. Karena pada prinsinya jika bacaanya tetap maka hukumnya juga tetap dan jika bacaanya di hapus maka hukumnya ikut terhapus. Argumen mu'tazilah ini lebih menekankan pada aspek rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Bidang-bidang &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Mansukh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, kuantitatif dan pijakannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari bangunan konsep &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; tentunya harus ada kalasifikasi&lt;b&gt; &lt;/b&gt;atau lahan-lahan tertentu yang menjadi objek konsep tersebut, dan aflikasinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak harus menyentuh pada semua ajaran atau ayat al Qur'an. Di sini para ulama (yang pro) sepakat bahwa secara umum &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;nasikh-mansukh&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak bisa terjadi kecuali pada masalah cabang-cabang hukum yang meliputi ibadah dan muamalat (hukum yang mengatur cara interaksi sesama manusia atau bertransaksi) atau lebih dekenal dengan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;juz'iyǎt&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Adapun yang berkaitan dengan dasar-dasar hukum ibadah dan muamalat (&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;usuliyyah&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;), dan masalah aqidah, akhlaq serta makna-makna yang terkandung dalam ayat yang sifatnya informatif baik informasi tentang generasi terdahulu atau informasi keberadaan generasi kemudian serta lainnya, maka tidak ada pintu tawar-menawar kemungkinan terjadinya&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Artinya istilah konep &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; jika berhadapan dengan masalah tersebut tidak di kenal dan tidak berfungsi. Yang melatarbelakangi ketidak adanya &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; dalam hal itu, karena dasar-dasar ibadah dan muamalat berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia secara terus menerus guna membersihkan jiwa manusia dari segala bentuk kotoran, dan dasar itu yang menjadi asas hubungan manusia dengan penciptanya. Begitu juga aqidah merupakan keniscayaan yang permanen tidak dapat berubah dan berganti (konstan) meskipun dalam kondisi apapun, aqidah tetaplah aqidah. Adapun akhlaq juga tidak dapat di &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; karena dengan akhlaq akan tampak kebijakan dan hikmah Allah yang terkandung dalam syari'at&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan akan terwujud kemaslahatan manusia sehingga ia tidak bisa berubah sebagaimana perubahan iklim dan selalu harus melekat pada manusia dalam ruang lingkup apapun, ia tidak mengenal jenis dan golongan, dan tetap berlaku secara permanen untuk semua ummat sehinggan jika di jadikan pegangan dalam tingkah laku maka akan tanpak jelas kemaslahatan di tengah masyarakat. Adapun yang berkaitan dengan ayat informatif, maka jika terjadi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; akan menimbulkan sebuah asumsi bahwa apa yang di kabarkan Allah sebelumnya adalah bohong, tidak benar dan salah. Nah, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;untuk menghindari semacam itu maka tidak di perkenankan adanya kemugkinan terjadinya &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, di samping itu karena hal ini tidak masuk pada tataran praktis. Sedangkan dalam al Qur'an terbutkti bahwa tidak satupun ada kandungan ayat yang mengandung kesalahan dan kebohongan. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        Sebagaimana ditetatapkan bahwa hukum-hukum syari'at yang di turunkan di makkah mayoritas bersifat &lt;i&gt;kulli&lt;/i&gt; dan menyangkut dengan kaidah-kaidah dasar agama. Sedangkan yang di turunkan di madinah juga demikian tetapi yang menyangkut dengan masalah &lt;i&gt;juz'I&lt;/i&gt; juga ada. Hal itu menunjukkan bahwa &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; dalam syari'at secara kuantitatif bisa di bilang sangat sedikit. Mengingat kalau melihat masalah syari'at yang turun di makkah hampir semuanya di bilang &lt;i&gt;kulli&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;            Setelah di lakukan investigasi, Imam al Syathibi dalam muwǎfaqotnya menyebutkan bahwa &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; hanya terjadi pada hal-hal yang &lt;i&gt;juz'I&lt;/i&gt; dan jumlahnya sangat sedikit bila di ukur dengan hal-hal yang sudah muhkam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Salah satu alasan yang di kemukakan oleh beliau adalah bahwa hukum yang sudah di tetapkan atas orang mukallaf maka pengakuan &lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt; atas hukum tersebut harus ada perintah yang nyata (dalil konkret) karena penetapan hukum tersebut bagi orang mukallaf sudah di pastikan. Oleh karenanya jika hukum itu di hapus maka harus ada data yang pasti juga. Berdasarkan hal itu, maka para peneliti sepakat bahwa khabar ahad tidak bisa menasakh al Qur'an dan hadist mutawǎtir, karena hal demikian menghapus hukum yang pasti dengan dalil yang ambiguitas (&lt;i&gt;zdanni&lt;/i&gt;). Oleh karena itu bahwa hukum-hukum makkiyah yang di anggap mansukh, maka anggapan itu tidak layak di terima kecuali memang ada dalil yang mesti atas penghapusan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Adapun jumlah ayat yang dimansukh sangatlah terbatas, bahkan menurut pendapat sebagian ulama di antaranya imam al suyuthi mengatakan bahwa ayat yang di mansukh berjmlah 22 ayat. Menurut syekh al Hadhari hanya berjumlah dua puluh ayat. Itupun masih di perdebatkan oleh ulama yang tidak manerima adanya konsep ini dalam syariat islam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Untuk menetapkan atau memastikan bahwa ayat demikian di &lt;i&gt;mansukh&lt;/i&gt; oleh ayat yang demikin, maka setidaknya harus ada landasan atau pijakan riil. Pijakan-pijakan itu harus ada pernyataan riil dari Rasulullah atau dari sahabat. Ibnul Hishǎr berkata" hendaknya dalam penghapusan (hukum) di kembalikan kepada naql yang jelas dari Rasulullah atau dari sahabat, yang mengatakan" ayat demikian di mansukh oleh ayat demikian". 'Abdul Hamid Ibrahim Sadhǎn (salah satu deretan ulama' al Azhar) dalam karyanya &lt;i&gt;"al wahyu wal Qur'an"&lt;/i&gt; menjelaskan, di dalam masalah penghapusan (hukum) tidak boleh berpijak pada pendapat mayoritas para mufassir dan ijtihad para mujtahid tanpa ada naql yang jelas dari Rasulullah saw atau dari sahabat. Karena penghapusan (&lt;i&gt;naskh&lt;/i&gt;) itu, melibatkan dua hal: penghapusan suatu hukum dan penetapan hukum lain, yang sudah di tetapkan pada masa Rasulullah saw. Jadi yang harus menjadi pijakan adalah nas dan bukti sejarah bukan pendapat dan ijtihad. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Modus-modus &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalau kembali kemakna etimilogi di atas, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;naskh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; berarti" penghapusan dan pencabutan sesuatu oleh hal lain yang membatalkannya". Dalam kajian tradisional tentang al Qur'an dan syari'at islam, ini berarti verifikasi dan elaborasi berbagai modus pembatalan. Bukti tentang hal ini adalah firman Allah" &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Tidaklah Kami hapus (naskh) suatu ayat atau melupakannya, kecuali Kami datangkan yang lebih baik dari sejenisnya. Tidaklah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. (QS. 2;106) berbagai modus &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;naskh&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; bisa di jabarkan sebagai berikut: (1) pembatalan suatu ayat al Qur'an oleh ayat yag muncul setelahnya; (2) pemberlakuan kembali sebahagian teks al Qur'an yang telah di hilangkan; (3) pembatalan beberapa perintah terdahulu di dalam al Qur'an oleh wahyu yang turun sesudahnya, sementara ayat yang berisi perintah tersebut tetap ada di dalam al Qur'an; (4) pembatalan suatu praktek kenabian oleh perintah al Qur'an dan (5) pembatalan al Qur'an oleh praktek kenabian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Hikmah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;HIKMAH&lt;/b&gt; adalah mutiara yang hilang dari kaum muslimin, di manapun ia menemukan maka berhak mengambilnya”, demikian juga dalam &lt;i style=""&gt;nasikh&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;mansukh&lt;/i&gt; ada beberapa hikmah yang terkandung didalamnya. Karena bagai­manapun juga setiap ciptaan ataupun perubahan ada hikmah yang ingin disampaikan Allah. Diantara hikmah dapat ditangkap dari konsep diatas adalah;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;1. Bahwa manusia diciptakan dan diberi kebosanan terhadap sesuatu yang sifatnya kontiniu dan tidak ada perubahan &lt;i style=""&gt;(status quo). &lt;/i&gt;Untuk itu Allah selalu mengutus disetiap zaman dengan seorang pembaharu &lt;i style=""&gt;(mujaddid)&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;2. Membuka kemulyaan Nabi Muhammad dan ajarannya, bahwa Islam meng­himpun tiga ajaran samawi, sekaligus mengganti ajaran yang tidak berlaku lagi pada zamannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;3. Memberikan kemaslahatan bagi ummatnya. Seperti dengan cara mengganti hukum yang terasa berat dengan hukum yang ringan, setidaknya memberikan pahala yang lebih besar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;4. Memberikan kemudahan dalam mengaplikasikan hukum (disini berlaku rah­mat Allah Yang Maha Kuasa).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;5. Bahwa penghapusan beberapa hukum disaat turunnya al Qur’an adalah seba­gai pelajaran bah­wa setiap sesuatu yang besar selalu melalui proses panjang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;6. Allah sebagaimana tertulis dalam al Qur’an, Dia tidak pilih kasih terhadap orang melakukan zina, baik laki laki atau­pun perempuan harus dihukum. Seperti yang diriwayatkan Umar bin Khattab &lt;i style=""&gt;“Laki laki tua ataupun perempuan tua jika mereka melakukan zina maka keduanya harus dirajam” &lt;/i&gt;tapi kemudian dinaskh lafadznya &lt;i style=""&gt;(naskh tilawah)&lt;/i&gt; tapi hukumnya tetap berlaku umum.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;Selamat membaca.............&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-right: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-515164395476498930?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/515164395476498930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=515164395476498930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/515164395476498930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/515164395476498930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2008/10/telaah-konsep-nasikh-mansukh-dan.html' title='Telaah konsep Nasikh Mansukh dan penfsiraanya terhadap al Qur&apos;an'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-1759659003068398617</id><published>2008-10-06T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T07:38:18.282-07:00</updated><title type='text'>Gairah intelektual rendah; sepaket potret geliat akademik masisir di musim panas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;    Musim panas yang bertepatan dengan &lt;i&gt;academy of holiday&lt;/i&gt; (hari libur akademik), seolah menjadi kebanggaan tersendiri dan ajang kompetisi para masisir dengan geliat berbagai aktivitasnya, sambil menunggu &lt;i&gt;natijah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;term&lt;/i&gt; pertama dan &lt;i&gt;term&lt;/i&gt; dua. Dengan hati berdebar, di liputi dan di hantui pertanyaan-pertanyaan, apakah saya menjadi orang sukses tahun ini, atau orang yang gagal. Mereka tiap hari-malam menatap langit bersama mengangkat kedua tangan, bermunajat, bermohon kepada sang maha kuasa seraya keluar untaian kata emas ”ya Allah, semoga kami tahun ini dan tahun-tahun berikutnya menjadi orang yang sukses, dan mendapat ridhamu dunia-akhirat serta mendapatkan ilmu yang bermanfaat”. Harapan-harapan di atas baru bisa terbukti kenyataannya ketika &lt;i&gt;natijah&lt;/i&gt; turun. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Untuk mengisi liburan tahun ini, mereka (masisir) ada yang tetap di sini dengan mengisi berbagai kegiatannya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang pulang keindonisia untuk memenuhi rasa kangen sama orang tua dan seluruh keluarga yang selama ini sudah lama tidak ngumpul sama mereka, dan kemudian entah apa yang mereka lakuakan disana.  &lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Berangkat dari topik di atas, kiranya tepat sekali untuk di opinikan dalam bentuk pena (goresan ilmiyah) sebagai potret &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;realitas insan akademis masisir yang hidrogen dan serba pluralitas dalam geliat kiprahnya selama musim panas. Mengapa perlu di opinikan dalam bentuk tulisan, karena hal ini menyangkut dengan gerakan keilmuan. Apapun yang menyangkut dengannya perlu di lirik dan di perhatikan kemudian di wacanakan dalam garapan keilmuan. Masisir sebagai komonitas akademis indonisia, di mesir, dengan jumlah lebih empat ribu maniak akademis, kiprah mereka di dalam mengembangkan dan menggali &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;keilmuan serta inteligensi yang matang sangatlah beragam dan serba pluralitas caranya, terutama di musim panas. Bahkan gairahnya lebih di optimalkan dan di sinergikan. Memang gairah seperti itu merupakan keharusan bagi mereka, kerena tujuan awal datang ke negri &lt;i&gt;Nil&lt;/i&gt; adalah untuk menuntut ilmu keislaman. Penulis melihat bahwa masisir yang mayoritas duduk di bangku S1 al Azhar, keilmuan dan potensi intlektualnya masih rendah dan dangkal sehingga mereka harus berjuang keras, banting tulang tanpa kenal waktu untuk betul-betul meningkatkan dan mengasah potensialisasi ilmu keislaman sesuai dengan jurusannya dengan banyak membaca dan belajar menulis. Sehingga nanti ketika pulang ke-Indonisia mempunyai bekal yang komplit dan matang serta siap menghadapi tangtangan globalisasi yang akan menghantam kehidupan masyrakat dari segala aspeknya. Jika tidak demikian maka kekecewaan dan penyesalan akan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menimpa pada dirinya sendiri dan pada masyarakatnya yang sedang mewanti-wanti selama ini.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Aktualita gerakan keilmuan masisir memang bisa di katakan cukup optimal dan bergengsi serta bersinergis. Itu terlihat adanya pluralitas organisasi mulai dari tingkat pusat, PPMI hingga keranting paling dekat dengan masisir, yaitu al Mamater dan beberapa ormas islam; NU, Muhammdiyyah dan persis serta lainnya. Dari berbagai organisasi inilah para akademis bergerak cepat dengan mengadakan berbagai rangkaian aktivitas., &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengadakan kajian esklusif dan ada yang mengadakan forum diskusi umum dengan mendatangkan tokoh-tokoh ulung dari indonisia yang sudah berkiprah di tengah-tengah masyarakat indonisia. Dan juga membentuk hal-hal lain yang sifatnya akademik, yang mendukung integritas pengatahuan dan wawasan keberislaman, semisal bulletin dll. Itu sebagai potret realitas yang menunjukkan bahwa betapa tingginya gairah intlektual masisir untuk mengembangkan dan merangkul ilmu-ilmu keislaman melalui jalur organisasi. Sebuah optimisasi dan langkah maju, progresif, serta inofativ yang layak mendapat ajungan jempol dan afresiasi yang positif. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Meskipun tingkat kecerdasan dan keilmuan mareka rata-rata masih di bilang sangat rendah dan masih dalam tahap penggalian. Namun hal itu tidak membuat mereka mender dan loyo untuk belajar, bahkan dalam kondisi seperti itu, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;resistensi membaca dan menulis lebih di komprehensifkan, sehingga pada akhirnya mereka akan berkompetisi dengan orang-orang yang tingkat keilmuan dan intlektualnya di bilang matang. Namun untuk mewujudkan hal itu tidak mudah harus menempuh jalur perjuangan. Orang sering berkata “kesuksesan bermula dari sesuatu yang cukup sedarhana; dari tahap awal kemudian menempuh pada tahap berikutnya dan seterusnya” intinya yang penting ada semangat dan optimis, dan prospek masa depan harus dipersiapkan mulai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Memang dalam mengisi musim libur, masing-masing masisir mempunyai cara pandang dan perinsip yang tidak sama satu dengan lainnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berperinsip bahwa kita harus aktif ikut &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt; selama musim panas agar kita lebih pandai berbahsa arab dan banyak mendapat ilmu keislaman dari orang mesir yang ahli. Sehingga mereka selama musim ini terkonsentrasikan pada &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt; dan tidak melibatkan diri pada kegiatan lainnya sebagaimana realitas di masisir. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berpandangan tidak sama dengan di atas, bahwa kalau hanya ikut &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt; tidak cukup untuk dijadikan sarana pengembangan keilmuan, harus di bantu dengan sarana kegiatan lainnya seperti kajian-kajian dan forum diskusi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Mungkin ada sebagian mereka yang kegiatannya hanya duduk santai di depan computer dengan megang kyboot, mouse sambil tertawa dengan lawan bicaranya di ruang yahoo, kedua bola matanya menatap monitor, tanpa memperhitungkan dan menyeimbangkan waktu yang sejatinya di isi dengan kegiatan ilmiah, seperti membaca dan menulis serta lainnya yang sifatnya ilmiyah. Padahal Nabi telah bersabda” ada dua nikmat, di mana manusia sering tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan masa senggang (waktu kosong)” Dua nikmat inilah oleh manusia sering di salah gunakan dan banyak manusia tertipu. Hadits ini bagi orang yang sadar, tertuma kawan-kawan akademis masisir, mendorong mereka lebih bergairah untuk betul-betul memamfaatkan waktu dengan aktivitas ilmiah agar tidak terperangkat pada penipuan. &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Membaca, menulis; memperkaya khazanah ilmiah&lt;o:p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;    Membaca, bagi manusia terutama kalangan masisir termasuk bagian penting dalam kiprah akademik, gairah dalam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hal ini bagi mereka di posisikan pada garda depan, karena kegiatan inilah yang banyak memberikan masukan intlektual dan khazanah keilmuan dalam islam. Meskipun mereka pada awalnya mengalami kesulitan dalam memahaminya, namun pada akhirnya mereka akan menemukan kemudahan. Biasanya pada musim libur, mereka banyak membaca berbagai macam buku, artinya tidak terfokus pada satu buku sebagaimana pada masa ujian yang harus fokus pada diktat kulliyah atau buku yang berkaitan dengan jurusannya. Melainkan melebihi dari itu, membaca buku-buku lain. Hal seperti ini akan membantu untuk memperkaya pengatahuan dan wawasan keberislaman sehingga paling tidak nanti di sebut akademikus (orang yang berpendidikan tinggi) atau katakanlah mampu bersaing di laga pencaturan intelektual dan keilmuan yang tiap hari makin berkembang seiring dengan laju arus globalisasi. Membaca, yang di dalam bahasa al Qur’an di sebut “ &lt;i&gt;iqra&lt;/i&gt;’” berkali-kali di ulang dalam Al Qur’an. Itu menggambarkan betapa pentingnya kegiatan membaca demi menambah pengatahuan. Dan juga menggambarkan agar kita bersemangat dan bergairah untuk lebih aktif belajar tiap saat terutama dalam mengisi hari-hari libur (waktu kosong). Bagi siapa saja yang ingin ber&lt;i&gt;-hadharoh&lt;/i&gt; (maju) dalam kehidupan mesti semangat belajarnya akan lebih berhasrat. Karena ia sadar bahwa membaca akan menambah khazanah ilmiah. Pepatah mengatakan ”Barangsiapa ingin menguasai dunia maka memperbanyaklah membaca”.&lt;br /&gt;      Begitu juga menulis, ia sangat membantu untuk lebih kuat ingatan dan akan lebih berproduktif dan inovatif. Memang menulis bukan pekerjaan yang mudah, ia butuh pembelajaran yang kontinyu, bukan hanya sekedar belajar kemudian nyaris hilang tanpa jejak dan tidak menggoreskan bekas apa-apa Kadang para akademisi sangat malas untuk belajar menulis. Padahal ini termasuk bagian komponen dari pengembangan keilmuan juga, dan termasuk aflikasi penyebaran ilmu melalu pena. &lt;span style="" lang="FR"&gt;Kalau semangat membaca tanpa di imbangi dengan semangat belajar menulis maka tidak komplit. &lt;/span&gt;Ingat…! membaca dan menulis adalah kunci peradaban. Sebagaimana di jelaskan oleh Dr. Husain Mu’nis dalam karyanya ”&lt;i&gt;al islamu hadharoh&lt;/i&gt;”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-1759659003068398617?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/1759659003068398617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=1759659003068398617' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/1759659003068398617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/1759659003068398617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2008/10/gairah-intelektual-rendah-sepaket.html' title='Gairah intelektual rendah; sepaket potret geliat akademik masisir di musim panas'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6928245588125001608.post-5091382313706453455</id><published>2008-10-05T11:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-05T11:28:14.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Varian Dialek Arab</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Pembukaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sebagaimana lazimnya sebuah produk budaya, bahasa juga mengalami perubahan dan perkembangan dari masa kemasa mengikuti derap perkembangan masyarakat penuturnya. Jadi suatu bahasa akan berkembang dalam lingkungan masyarakat dan mengikuti hukum perubahan, hal ini juga dialami bahasa Arab &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;‘A:miyyah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (BAA) dialek Mesir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Bahasa arab merupakan bahasa yang memilki banyak satuan-satuan kata sehingga ia mencakup ke berbagai bahasa arab antar suku dengan irama, aksen, longgam, logat dan dialek yang berbeda satu sama lainnya. Meskipun beragam dialek yang di gunakan cara mengungkapkan satu makna dari satu suku ke suku lain tidak membuat mereka kesulitan dalam berintraksi walaupun ada di antara sebagian. Secara geografis posisi negara Arab cukup strategis dan secara sosiologis adalah termasuk negara yang multi suku, sehingga di sana di kenal dengan suku, Tamim, Quraisy, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Huzdail, Kinanah, Khazraj, Himyar, Qis ‘Ailan, Jurhum, Kindah, Khats’am &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan lainya. Al Wâsithî mengatakan” Sungguh di dalam al Qur’an terdapat empat puluh bahasa arab. Di antaranya: Quraisy, Huzdail, Kinanah, Khats’am, Khazraj, Asy’ar, Namir, Qis ‘Ailan, Jurhum, al Yaman, Azdu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syanûah, Kindah, Tamim, Himyar, Madyan, Lakhm, Sa’dul ‘asyirah, Hadhramaut, Sadûs, al‘amâliqah, ‘An-mâr, Ghassân, Mazdhij, Khuza’ah, Ghathfan, Sabak, Oman, Banu Hanifah, Tsa’lab, Thayyun, ‘Àmir, Shash’ah, Aus, Muzainah, Tsaqif, Juzdam, Baliyyun, ‘Uzdroh, Hawazin, Namr dan al Yamamah”&lt;a style="" href="#_edn1" name="_ednref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;"Arab Umum" atau "Al-'Arabiyyah Al-'Ammiyah" adalah bahasa Arab yang dipakai dalam percakapan sehari-hari di dunia Arab, dan amat berbeda dengan bahasa Arab tulisan. Perbedaan dialek paling utama ialah antara Afrika Utara (Magribi) dan bagian Timur Tengah (Hijaz). Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan dialek bahasa Arab ialah pengaruh &lt;a href="http://wapedia.mobi/id/Substrat"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;substrat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (bahasa yang digunakan sebelum bahasa Arab datang). Seperti misalnya pada kata yakūn (artinya "itu"), di Irak disebut &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;aku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, di Palestina &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;fih&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, dan di Magribi disebut &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;kayən&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Dan ini tidak lepas dari peran dan produk sosio-masyakat yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Suatu persepsi bahwa masing-masing kabilah dengan dialek, irama dan longgam yang berbeda satu sama lain, semua bahasa yang di pakainya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terepresentasikan dalam bahasa Quraisy karena bahasa Quraisy adalah bahasa yang menghegemoni dan paling menonjol (superlatif). Dan juga karena dialek Quraisy termasuk paling indah dan enak di dengar maka banyak dialek yang sama dengan dialek Quraisy. Sehingga dapat di justifiksi bahwa bahasa Quraisy termasuk bahasa Arab yang intergral. Maka tidak heran jika al Qur’an di turunkan dengan bahasa Quraisy.&lt;a style="" href="#_edn2" name="_ednref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sebagaimna di katakana oleh Sayyidina ‘Utsman kepada suku Quraisy ketika dalam proses pengumpulan al Qur’an” jika antara kalian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan Zaid terjadi perselisihan sesuatu mengenai al Qur’an maka tulislah ia dengan bahasa Quraisy karena al Qur’an di turunkan dengan bahasa mereka. (dengan perintah Usman) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;akhirnya mereka melaksanakan (tugas itu)”&lt;a style="" href="#_edn3" name="_ednref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Secara sosiologis, kehidupan kabilah-kabilah sangat terstruktur dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda, pola tingkah laku yang khas, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;eksistensi kabilah itu sangat di pengaruhi oleh lingkungannya, terutama dalam masalah bahasa. Interaksi sosial antar kabilah ikut memberikan nilai-nilai sosial di mana disana akan saling memamahi meskipun dialeknya tidak sama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Selanjutnya berbicara mengenahi qira’ah Qur’aniyyah, kalau di lacak dari akar sejarah tentunya tidak lepas dari awal turunnya wahyu kepada nabi Muhamad saw. Di sebutkan bahwa pada awal-awal turunnya wahyu al Qur’an di baca dengan satu huruf. Hal ini terbukti ketika surat al ‘Alaq itu turun kepada nabi dan pada diri beliau tidak terlintas pertanyaan atau jumlah bacaan itu, apakah satu huruf saja atau dua, tiga dan seterusnya. Maklum dalam iklim semacam ini beliau belum sempat memikirkan keberadaan umatnya karena masih dalam awal konsideransi pengangkatan sekaligus pengesahan sebagai seorang nabi dan Rasul. Di samping ketika turun ayat &lt;i&gt;iqra’&lt;/i&gt; beliau berada dalam dekapan melaikat Jibril yang begitu keras hingga beliau bercucuran keringat dan hampir tidak kuat menahannya. Bahkan beliau pada saat itu meskipun di suruh baca berulang kali oleh malaikat Jibril beliau tetap menjawb “tidak tahu” (apa yang harus ia baca). Baru beliau bisa baca setelah mendapat bingbingan dan tuntunan bacaan langsung dari malaikat Jibril. Dalam kondisi semacam ini mengelustrasikan bahwa betapa sulitnya membaca al Qur’an jika tanpa ada tuntunan dari orang yang lebih tahu dan ini tidak mudah di lakukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Singkatnya selang beberapa waktu kemudian, karena beliau sudah peka melihat umatnya dan dinilai umatnya tidak mampu membaca al Qur’an dengan satu haruf maka barulah qira’at (bacaan) al Qur’an mulai masuk ranah kelonggaran (keterbukaan). Itu melalui proses pengajuan proposal bentuk ungkapan langsung di hadapan malaikat Jibril as. Itu terjadi ketika malaikat Jibril datang kepada beliau menyampaikan al Qur’an.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Rasulullah berkata: ‘&lt;i&gt;Jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.&lt;a style="" href="#_edn4" name="_ednref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Imam Muslim menambahkan, Ibnu Syihab berkata” telah samapai kepadaku bahwa tujuh huruf itu pada hakikatnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu tidak ada perbedaan dalam masalah halal dan haram”.&lt;a style="" href="#_edn5" name="_ednref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; .Dalam riwayat lain di sebutkan, ketika melaikat Jibril datang kepada Rasululuah, ia berkata” &lt;i&gt;sesungguhnya allah memerintahkan kepadamu agar membacakan (al Qur’an) kepada umatmu atas satu huruf, Rasulullah berkata, saya memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah karena Umatku bener-bener tidak mampu melaksanakan itu&lt;/i&gt;”.6&lt;a style="" href="#_edn6" name="_ednref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; permohonan ini berulang kali diajukan hingga akhirnya samapi pada tujuh huruf.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena proposal tadi sudah di respon positif oleh malaikat Jibril dengan memberikan pengesahan atas qira’at al Qur’an dengan tujuh huruf maka mulailah beliau membacakan dan menyampaikan serta menganjarkan ayat-ayat al Qur’an -sebagaimana beliau terima dari Jibril-kepada para sahabat dengan varian bacaan, hinga dalam satu ayat yang di terima oleh mereka terdapat perbedaan bacaan. Semisal ayat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;كالعهن المنفوش&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibnu Mas’ud membaca &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;كالصوف المنفوش&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan juga contoh lain, Anas membaca ayat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ان نا شئة الليل هى أشد وطأ وأصوب قيلا &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebagian masyarakat menegur kepada Anas, wahai Aba Hamzah &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;انما هى " وأقوم"&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anas berkata : &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;اقوم وأصوب وأهيا واحد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Latar belakang permohonan rasul tadi semata-mata untuk mempermudah dan meringankan kepada umat dalam membaca, menghafal dan memahami karena beliau bukan hanya di utus kepada golongan tertentu melainkan kepada semua manusia, baik orang Arab, ‘Ajam, kulit hitam atu kulit putih, orang lemah, laki-laki maupun perempuan. Apalagi pada waktu itu beliau berada di tengah komonitas yang buta huruf (&lt;i&gt;Ummiyyin&lt;/i&gt;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Karena sahabat adalah generasi yang langsung belajar dan menerim qira’at al Qur’an yang berbeda-beda dari Rasululullah maka tak heran jika banyak dikalangan mereka yang ahli qira’at diantaranya, semisal ‘Utsman bin ‘Affan (35 H), ‘Ali bin Abi Thalib (40 H), Ubai bin Ka’ab ( satu bulan terbunuhnya ‘Utsman), ‘Abdullah bin Mas’ud (32 H), Zaid bin Tsabit (45 H), Abi Musa al Asy’ari ( 44 H) Abud Darda’( 32 H). Dari mereka itulah al Qur’an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terjaga dan mereka sering mengajukan bacaan kepada beliau dan beliau menerima pengajuan (presentasi bacaan mereka). Dari ahli qira’at yang sepuluh (&lt;i&gt;qurroul ‘asyr&lt;/i&gt;, yang di kenal sekarang) itu rangkaian sanad dan rawinya bersambung sampai pada ahli qira’at kalangan sahabat tersebut.&lt;a style="" href="#_edn7" name="_ednref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dan keberadaan mereka tidak hanya di satu daerah melainkan terpencar di berbagai daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Zaman terus bergulir, masa berganti masa, generasi pun terus berganti, qira’at-qira’at al Qur’an terus di kumandangkan oleh mereka di berbagai ranah kota mitropolis, dibacakan dan di ajarkan kepada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;generesi, hingga selanjutnya muncul lagi ahli qira’at dari kalangan tabi’in, mereka tampil sebagai pakar qira’at, belajar dan menerima qira’at dari para sahabat, meraka juga berkometmen menjaga dan menghafal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;qira’at serta menyebarkannya ke berbagai kota metropolitan islam. Di kota Madinah tampil beberapa ahli qira’at di antaranya, Abul Harits ‘Abdullah bin ‘Iyasy (69 H). Sa’id Bin al Musayyab (94 H), ‘Abdur Rahman bin Hurmuz al a’raj (117), Muhammad bin Muslim bin syihab az Zyhri (123). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di kota Mekah tampil juga sejumlah ahli qira’at, antara lain, ‘Atha’ bin Abi Ribahah (115 H),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Thawus bin Kisan al Yamani ( 106 H), Mujahid Bin Jubair ( 102 H) yang kemudian qira’atnya di langsungkan oleh Ibnu Katsir salah satu qira’atus Sab’ah. Di Kufa tampil Sulaiman bin Mahran al a’masy ( 148 H) yang qira’atnya di teruskan oleh Hamzah salah satu qurrous Sab’ah, ‘Alqamah bin Qais (62 H). Di Bashrah tampil Abul ‘Aliyyah al riyahi ( 90H), Yahy bin Ya’mur (90 H), Nashr bin ‘Ashim (90 H). Di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syam, tampil Yahya bin Harits azd Zdimari ( 145 H), Al Mughirah bin Abi Syihab al Makhzumi ( 91 H), ‘Athiyyah bin Qais al Kilabi (121 H)5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ahli qira’at dari golongan tabi’in diatas yang menyebar di berbagai kota metropolis termasuk yang paling masyhur qira’atnya. dan bacaan yang ada dikota tersebut termasuk qira’at mereka yang terus bersambung hingga pada Rasulullah. Namun yang mutawatir qira’at mereka adalah qira’at yang sepuluh.&lt;a style="" href="#_edn8" name="_ednref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jadi iklim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti itu ikut meramaikan dunia keilmuan dan menghebohkan syiar-syiar al Qur’an pada ranah realitas. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dari rentetan koronologis dan humanisasi qira’at-qira’at dari masa-kemasa dan dari generasi kegenarasi, dan masih belum menjadi di siplin atau istilah keilmuan maka sekitar akhir abad pertama resmi di akui sebagai sebuh disipilin ilmu, tapi belum di kenal sebagai ilmu qira’at. Hal itu dengan lahirnya karya pertama kali yang di karang oleh Yahya bin Ya’mar yang di dalamnya menghimpun berbagai varian qira’at yang sesuai dengan &lt;i&gt;khath&lt;/i&gt; mushhaf ‘Utsman (pada tahun 90 H). Kemudian disusul oleh Harun bin Musa pada akhir abad kedua, ia menyusun sebuah karya yang membahas tentang qira’at syazd dan sanadnya. Dan masih banyak karya-karya yang lain. Kemudian perkiraan akhir abad kedua itu barulah muncul istilah yang di kenal sebagai “&lt;i&gt;qira’ah shahihah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qira’ah syazd&lt;/i&gt;” sebagai&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;seleksi atas bacaan mana yang bener-benar shahih dan tidak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan qira’at itu mengkristal pada qira’at yang tujuh. Ibnu mujahid sebagai imam Qurro’ pada abad ke tiga termasuk pelopor pertama yang melabelkan istilah “qira’atus Sab’ah” dan itu tergambar dari karyanya yaitu” &lt;i&gt;Kitabus Sab’ah&lt;/i&gt;” di dalamnya juga di bahas tentang tiga qira’at sehingga genap sepuluh qira’at yang di akui dan lebihnya termasuk Syazd.&lt;a style="" href="#_edn9" name="_ednref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Ada sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa orang pertama kali yang menyusun ilmu qira’at adalah Al Imam Abu ‘ubaid al Qasim bin Salam wafat pada 224 H. Dia mengarang buku “ &lt;i&gt;al Qira’ât&lt;/i&gt;” di dalamnya mengupas duapuluh lima Qari’. Diakui bahwa orang pertamakali yang mengumpulkan qira’at-qira’at dalam satu karya adalah Abu ‘Ubaid al Qasim bin Salam, ia mengarangan buku itu dengan mengumpulkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;duapuluh lima ahli qira’at termasuk qurrous Sab’ah.&lt;a style="" href="#_edn10" name="_ednref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Berdasarkan data-data sejarah singkat di atas maka keberadaan &lt;i&gt;al qira’ah al Qur’aniyyah&lt;/i&gt; sekarang termasuk bagian dari sejarah al Qur’an yang mendapat perhatian besar dari ulam Nahwu, para mufassir dan sejarawan sejak masa awal kehidupan islam.......... Dalam makalah ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penulis hanya membahas poin-poin penting dan selanjutnya bisa di kembangkan sendiri oleh kawan-kawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;1. Makna Dialek (Arab)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dialek secara lughawi adalah bahasa yang di gunakan. Kenapa di sebut &lt;i&gt;lahjah&lt;/i&gt; karena ia termasuk “parole” yang di tuturkan.&lt;a style="" href="#_edn11" name="_ednref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara istilah, Dialek adalah bahasa yang di pakai oleh manusia secara lisan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan dan saling memahami di antara mereka.&lt;a style="" href="#_edn12" name="_ednref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dialek keseharian ini di peroleh sejak manusia lahir sebagai alat komonikasi, dan dialek ini dari satu daerah kedaerah lain berbeda bahkan dengan negra lain pun. Dalam istilah sain modern, dialek di pahami sebagai serumpunan atau kumpulan sifat-sifat bahasa (linguistik) yang berafiliasi dengan lingkungan tertentu, dan semua individu dalam lingan ini ikut serta di dalam sifat-sifat linguistik.&lt;a style="" href="#_edn13" name="_ednref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dan lingkungan dialek adalah bagian dari lingkungan yang lebih luas dan lebih mengandung banyak dialek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;واللَّهْجة في الاصطلاح العلمي الحديث: مجموعة من الصفات اللغوية التي تنتمي إلى بيئة خاصة، ويشترك في هذه الصفات جميع أفراد هذه البيئة&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Bagi penulis dialek itu bisa di pahami sebagai ungkapan suatu makna atau tujuan dengan pola pengungkapan yang bebeda. Salah satu contoh &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;عنعنة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;dialek Tamim, huruf hamzah diganti ‘&lt;i&gt;Ain &lt;/i&gt;atau contoh dialek Cairo, huruf &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ما&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yang bermakna &lt;i&gt;nafi &lt;/i&gt;( negatif) di tambah &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ش&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;sehingga bisa di baca &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;مش&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;seperti &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;مش محمد فى الدار&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; sama dengan mengatakan &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ما محمد فى الدار&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Itu salah satu contoh yang paling sedarhana. Juga ada yang mendefinisikan bahwa dialek adalah cara mengungkapkan kalimat (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;tongue&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;) kepada pendengar. Seperti dengan &lt;i&gt;imalah&lt;/i&gt;( baca miring), bunyi lafadh, suara kalimat dan semua hal yang berhubungan dengan suara semisal meringankan bacaan Hamzah dan cara mengucapkannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;2. macam-macam kabilah dan dialek Arab dalam al Qur’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Ada banyak kabilah dalam bangsa Arab yang sangat berpengaruh terhadap linguistik Arab. Sudah menjadi hal yang pasti bahwa peran suatu kabilah atau suku akan sangat mendominasi dan menghegemoni didalam dialek ( &lt;i&gt;lahjah&lt;/i&gt;) dalam suatu bahasa. Dalam hal ini kabilah-kabilah Arab juga seperti itu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa dialek bahasa mesir tidak sama dengan dialek Arab Saudi, begitu juga dengan Syiria meskipun sama-sama bahasa Arab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dalam hal ini ada beberapa kabilah yang terkenal dan masyhur di dalam dialek Arab. Sebelumnya kita tahu bahwa tiap-tiap kabilah mencakup golongan-golongan yang besar dari kabilah-kabilah yang terkenal di dalam sejarah dan adab. Ada pendapat bahwa ada tiga kabilah yang terkenal di dalam dialek Arab; yaitu Tamim, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Huzdail dan To’i. Tiga kabilah ini menjadi rujukan dan sandaran para pakar bahasa dalam pashohah dan keindahan bahasa.&lt;a style="" href="#_edn14" name="_ednref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hemat penulis bahwa di antara kabilah-kabilah yang ada tidak di ketahui mana yang lebih menonjol dan masyhur serta peranya sangat berpengaruh terhadap dialek arab. Namun selama ini menurut penulis yang paling masyhur dan dialeknya paling fashih dan indah adalah kabilah Quraisy dan dialek ini sangat berpengaruh terhadap &lt;i&gt;al Qirâat al Qur’aniyyahI&lt;/i&gt; sehingga al Qur’an di turunkan dengan dialek Quraisy.&lt;a style="" href="#_edn15" name="_ednref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sebgaimana yang di katakan oleh Sayyidina ‘Utsman “ &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;jika kalian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Zaid terjadi perselisihan sesuatu mengeani al Qur’an maka tulislah ia dengan bahasa Quraisy. Karena al Qur’an di turunkan dengan bahasa mereka. (dengan perintah Usman)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akhirnya mereka melaksanakan (tugas itu”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dalam hadits ini tidak ada dilalah qath’i yang menunjukkan bahwa semua al Qur’an adalah diturunkan dengan dialek (bahasa) Quraisy, karena makna lahiriyah dari firman Allah” &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;انا جعلناه قرأنا عربيا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mennujukkan bahwa al Qur’an diturunkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seluruh bahsa Arab. Bagi orang yang berasumsikan bahwa ia di turunkan hanya dengan dialek Mudhar, atau dialek Quraisy maka ia harus memberikan bukti dan rujukan yang jelas, karena kata Arab itu mencakup pada semuanya. Jika asumsi semacam itu di bolehkan maka orang lain juga boleh berasumsi bahwa al Qur’an di turunkan dengan dialek bani Hasyim misalnya, karena ia termasuk suku yang nasabnya paling dekat dengn Rasul dari pada suku Quraisy.&lt;a style="" href="#_edn16" name="_ednref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sedangkan dialek suku-suku Arab yang berada dalam al Qur’an, sebagian ulama &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berpendapat bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa; Bahasa Quraisy, Huzdail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan al Yaman. Otomatis penafsiran ini bisa disimpulkan bahwa di dalam al Qur’an hanya terbatas pada dialek yang tujuh tadi. Padahal suku-suku lain termasuk bagian dari Arab dan ini bertentangan dengan Firmn Allah” &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;انا أنزلناه قرأنا عربيا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;. jadi pendapat ini terkesan dikotomis karana sudah bertentang dengan ayat tersebut. Bagi penulis, bahasa al Qur’an tidak hanya mencakup pada dialek suku yang tujuh itu, karena kata &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;الاحرف السبعة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dalam bahasa arab di maksudkan pada bilangan banyak dan sempurna. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bilangan “tujuh’ tidak memilki arti, melainkan ia hanya sebagai simbol dari kesempurnaan makna jumlah itu. Jadi kata “&lt;i&gt;sab’ah&lt;/i&gt;” di maksudkan pada jumlah banyak dan sempurna dalam bilangan satuan. Sebagaimana &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kata &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;السبعون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;adalah ungkapan dari bilangan puluhan.dan juga kata &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;السبعمائة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;ungkapan dari bilangan berbagai ratusan( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;فى المتتين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;)&lt;a style="" href="#_edn17" name="_ednref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;3. Hubungan bahasa dengan dialek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Adapun mengenai hubungan bahasa dengan dialek, terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa bahasa dengan dialek (&lt;i&gt;lahjah&lt;/i&gt;) tidak ada perbedaan, tiap-tiap dialek adalah bahasa. Ada yang berpendapat bahwa bahasa adalah berbeda dengan bahasa lain dari segi suara, nahwu, susunan dan kemampuan untuk mengungkapkannya. Dengan susunan yang berbeda maka kadang zaid atau ‘Umar bisa tidak paham terhadap kosa kata dalam strukturnya.&lt;a style="" href="#_edn18" name="_ednref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ada yang berpendapat bahwa antara bahasa dan dialek terdapat hubungan &lt;i&gt;‘am &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;khash&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;4. Qira’at al Qur’an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Secara bahasa, qira’at adalah bacaan, ia berbentuk masdar dari kata kerja lampau &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;قرأ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;yang artinya melafalkan. Kadang kalimat ini dipakai dalam arti maf’ul (objek) yang berarti kata yang terungkap.&lt;a style="" href="#_edn19" name="_ednref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sedangkan secara termenologi terdapat berbagai pandangan ulama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Menurut Al-Dimyathi sebagaimana dikutip oleh Dr. Abdul Hadi al-Fadli bahwasanya qira’at adalah s&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-style: normal;"&gt;uatu ilmu untuk mengetahui cara pengucapan lafal-lafal al-Qur’an, baik yang disepakati maupun yang diikhtilapkan oleh para ahli qra’at, seperti hazd (membuang huruf), isbat (menetapkan huruf), washl (menyambung huruf), ibdal (menggantikan huruf atau lafal tertentu) dan lain-lain yang didapat melalui indra pendengaran.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; . Sedangkan menurut Imam Shihabuddin al-Qushthal, qira’at adalah “Suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qira’at, seperti yang menyangkut aspek kebahasaan, i’rab, isbat, fashl dan lain-lain yang diperoleh dengan cara periwayatan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sedangkan &lt;b&gt;Qira’atul al Qur’an&lt;/b&gt;, adalah bentuk rangkain kalam Allah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;swt. melalui jalan yang berbeda-beda &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan jalan mutawatir dan dinisbatkan kepada para imam tertentu yang mengadopsi (menukil) qira’at tersebut. Seperti qira’at Nafi’, atau Ibnu Katsir, atau Ibnu ‘Amr.&lt;a style="" href="#_edn20" name="_ednref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kadang bisa di artikan bahwa qir’at adalah bentuk-bentuk yang ada dengan mengganti bacaan lafadh. Seperti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lafdh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;الصراط&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt; bisa di baca tiga bacaan; pertama di baca huruf &lt;i&gt;shad&lt;/i&gt; murni, kedua di baca huruf &lt;i&gt;shad&lt;/i&gt; yang bercampur dengan suara huruf &lt;i&gt;zai&lt;/i&gt;, ketiga, bisa di baca huruf &lt;i&gt;sin&lt;/i&gt;. Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa qira’atul Qur’an adalah bagian-bagian dan tata cara (pengaungkapan) di dalam hakikat al Qur’an dan sifat-sifatnya. Sehingga dapat di katakan sebagai &lt;i&gt;Qiratan haqiqiyatan&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan juga di katakan Qur’an &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mutawatir yang di sepakati (ulama) dan membacanya dinilai sebuah ibadah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Salah satu contoh dari bentuk susunan al Qur’an adalah &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;فتلقى أدم من ربه كلمات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  dengan membaca nasab pada kalimat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;أدم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  dan kalimat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;كلمات &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;   di baca rafa’. Ini menurut Ibnu katsir. Sedangankan menurut lainnya dibaca sebaliknya. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.&lt;a style="" href="#_edn21" name="_ednref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;5. Tingkatan-tingkatan Qira’at&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa qira’at bukanlah merupakan hasil ijtihad para ulama, karena ia bersumber dari Nabi SAW. Namun untuk membedakan mana qira’at yang berasal dari Nabi SAW dan mana yang bukan, maka para ulama menetapkan pedoman atau persyaratan tertentu. Ada 3 persyaratan bagi qira’at al-Qur’an untuk dapat digolongkan sebagai qira’at shahih, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;صحة السند&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;harus memiliki sanad yang shahih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;مطابقة الرسم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;harus sesuai dengan rasm mushaf salah satu mushaf Utsmani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;موافقة العربية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;   harus sesuai dengan kaidah Bahasa Arab.&lt;a style="" href="#_edn22" name="_ednref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Jika salah satu dari pedoman atau persyaratan ini tidak terpenuhi, maka qira’at itu dinamakan qira’at yang lemah, syadz atau bathil.   Berdasarkan kuantitas sanad dalam periwayatan qira’at tersebut dari Nabi SAW, maka para ulama mengklasifikasikan qira’at al-Qur’an kepada beberapa macam tingkatan. Sebagian ulama membagi qira’at kepada 6 macam tingkatan, yaitu sebagai berikut:&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;ذ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;المتواتر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; :  Qira’at yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;المشهور&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; :  Qira’at yang shahih sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawatir dan sesuai dengan kaidah Bahasa Arab juga rasm Utsmani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;الآحد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; : Qira’at yang shahih sanadnya tetapi menyalahi rasm Utsmani ataupun kaidan Bahasa Arab (qira’at ini tidak termasuk qira’at yang diamalkan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;الشاذ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; : Qira’at yang tidak shahih sanadnya, seperti qira’at. Seperti Qira’at Ibnu Sumaifi’ &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;اليوم ننجيك ببدنك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; di baca huruf &lt;i&gt;hak&lt;/i&gt; dan ayat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;لتكون لمن خلفك أية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dengan di baca fatha huruf &lt;i&gt;lam&lt;/i&gt; dalam kalimat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;خلفك&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;5. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;الموضوع&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; : Qira’at yang tidak ada dasarnya dan asalnya, semisal pendapat al Rafidhah bahwa &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;المضلين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dengan dibaca fatha &lt;i&gt;‘ainnya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;nunnya&lt;/i&gt; di baca kasrah. Sehingga makna&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang di inginkan adalah Abu Bakar dan ‘Umar.&lt;a style="" href="#_edn23" name="_ednref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;6. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;المدرج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; : Qira’at yang berfungsi sebagai tafsir atau penjelas terhadap suatu ayat al-Qur’an. Menurut al Suyuthi ia adalah bacaan yang ada yang berfungsi untuk menafsirkan ayat. Seperti Qira’at Sa’ad bian Abi waqqash” &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وله أخ أو اخت من أم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dalam firman Allah “ &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وله أخ أوأخت فلكل واحد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_edn24" name="_ednref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;6. Implikasi perbedaan Qira’at Terhadap Penggalian Hukum.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sebelum masuk kepada pengaruh perbedaan qira’at terhadap istinbat hukum, kata istinbat ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;إستنباط&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) adalah Bahasa Arab yang akar katanya al-nabth ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;النبط&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) artinya air yang pertama kali keluar atau tampak pada saat seseorang menggali sumur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Adapun istinbat menurut bahasa berarti: “Mengeluarkan air dari mata air (dalam tanah)”, karena itu, secara umum kata istinbat dipergunakan dalam arti istikhraj ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;استخراج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ), mengeluarkan. Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud istinbat yaitu:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;إستخراج المعانى من النصوص بفرط الذهب وقوة الفريحة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Mengeluarkan kandungan hukum dari nash-nash yang ada (al-Qur’an dan al-Sunnah), dengan ketajaman nalar serta kemampuan yang optimal.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa, esensi istinbat yaitu: Upaya melahirkan ketentuan-ketentuan hukum yang terdapat baik dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Mengenai obyek atau sasarannya yaitu dalil-dalil syar’i baik berupa nash maupun bukan nash, namun hal ini masih berpedoman pada nash.       &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Ternyata pengaruh qira’at dalam studi keislaman akan kita rasakan tatkala ketika kita benar-benar mendalami qira’at dan mentadabburi isinya, mka kita benar-benar merasakan i’jaz al Qur’an dari sisi bahasanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Adapun perbedaan Qira’at al-Qur’an yang khusus menyangkut ayat-ayat hukum dan berpengaruh terhadap istinbat hukum, dapat dikemukakan dalam contoh berikut:Firman Allah SA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;‎&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;WT:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ  قَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْابِرُءُ وْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; “ &lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki&lt;/i&gt;.” (QS. al-Maidah /5:6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Ayat ini menjelaskan, bahwa seseorang yang mau mendirikan shalat, diwajibkan berwudhu. Adapun caranya seperti yang disebutkan dalam firman Allah di atas. Sementara itu, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;para ulama berbeda pendapat tentang apakah dalam berwudhu, kedua kaki ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وارجلكم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) wajib dicuci ataukah hanya wajib diusap dengan air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Hal ini dikarenakan adanya dua versi qira’at yang menyangkut hal ini. Ibn Katsir, Hamzah dan Abu Amr membaca &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . Nafi, Ibn Amir dan al-Kisai membaca  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; Sementara Ashm riwayat Syu’bah membaca  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , sedangkan Ashm riwayat Hafsah membaca  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Qira’at &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menurut dzahirnya menunjukkan bahwa kedua kaki wajib dicuci, yang dalam hal ini ma’thuf kepada  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;قَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . Sementara Qira’at &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  menurut dzahirnya menunjukkan bahwa kedua kaki hanya wajib diusap dengan air, yang dalam hal ini ma’thuf kepada  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَامْسَحُوْابِرُءُ وْسِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; .  Jumhur ulama cenderung memilih qira’at  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلَكُم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; mereka memberikan argumentasi sebagai berikut (a) Menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan. (b). Dalam ayat tersebut Allah membatasi kaki sampai mata kaki, sebagaimana halnya membatasi tangan sampai dengan siku. Hal ini menunjukkan bahwa dalam berwudhu, kedua kaki wajib dicuci sebagaimana diwajibkannya mencuci kedua tangan. Selain itu jumhur berupaya menta’wilkan qira’at  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 19.6pt; text-align: justify; text-indent: -19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(a). Qira’at &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  kedudukannya ma’thuf kepada kata  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَيْدِيَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , akan tetapi kata &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;وَاَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  dibaca majrur disebabkan karena berdekatan dengan  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;رُءُ وْسِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  yang juga majrur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 21.7pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(b). Lafadz &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;اَرْجُلِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;  dalam ayat tersebut dibaca majrur, semata-mata karena ma’thuf kepada lafadz &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;رُءُ وْسِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;   yang majrur. Akan tetapi ma’thufnya hanya dari segi lafadz bukan dari segi makna. Ada sebagian yang berpendapat bahwa di dalam berwudu’ tidak wajib mecuci kaki, cukup dengan dibasuh saja. Mereka beralasan bahwa kata &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وارجلكم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; di ‘athafkan pada kalimat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وأيديكم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Contoh lain adalah ayat &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ولا تقربوهن حتى يطْهرن &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat dibaca tasydid dan takhfif (sukun).dalan kalimat tersebut, maka punya arti “hingga suci dari haid, kalo di baca &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;حتى يطَّهرن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; maka memeliki arti hingga wanita itu bersuci dengan air (jika sudah tidak keluar darah lagi, atau mandi besar). Menurut Jumhur ulama jika di baca tasydid maka akan menjelaskan makna yang di baca takhfif (sukun) sehingga dabat di simpulkan bahwa wanita yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sudah bersih dari haid tidak boleh di gauli oleh suami hingga ia bersuci dengan air.&lt;a style="" href="#_edn25" name="_ednref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Implikasi lain dari perbedaan qira’at adalah pada konsep “teologi” dan doktrin’ kalam” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semisal dalm ayat 23 at Takrir: &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وما هو على الغيب بضنين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;“&lt;i&gt;Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib&lt;/i&gt;”. Nafi’, Ibnu ‘Âmir, ‘Ashim, Hamzah dan Abu Ja’far membaca dengan huruf &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;ض&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;, sedangkan yang lainnya membaca dengan huruf &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;ظ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Jika di baca yang pertama maka doktrin yang lahir adalah bahwa beliau bukanlah orang yang bakhil untuk menjelskan hal-hal yang ghaib, dalam arti beliau terpelihara(&lt;i&gt;ma’shum&lt;/i&gt;) dari kebakhilan untuk menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah swt.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;تثبت عقيدة العصمة من الكتمان, وتثبت وجوب التبليغ, والأمانة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;.Qira’at ini akan menetapkan akan konsep aqidah (teologi) dasar bahwa Rasulullah adalah terpelihara dari sifat &lt;i&gt;kitman&lt;/i&gt; dan kewajiban akan menyampaikan risalah serta bertanggunguh jawab ( memiliki sifat “amanah”). Sedangkan makna dari bacaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kedua adalah bahwa Rasulullah bukanlah orang yang berangan-angan, bahkan beliau terpelihara dari berangan-angan, kesalah dan pelupa&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;وتثبت عقيدة الفطانة المنافية للغفلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;تثبت عقيدة العصمة من الخطأ والوهم, والنسيان, وتثبت عقيدة الصدق المطابق للحق بلا أدنى شائبة &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;. Qira’at ini, sasaran maknanya adalah melahirkan doktrin teologis bahwa beliau adalah orang yang jujur, apa yang ia samapikan selalu benar dan sesuai dengan kenyataan tanpa diragukan ucapannya, juga beliau memilki sifat &lt;i&gt;fathonah&lt;/i&gt;. Dua qira’at ini dan doktrin teologinya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di dukung oleh berbagai dalali lain. (baca &lt;i&gt;mausu’ah al Qur’aniyyah al mukhashshishah&lt;/i&gt;, hlm 323) dan masih banyak contoh-contoh yang lain. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;7. Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.1pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Mengenai hal ini, terjadi perbedaan pula dari para ulama tentang apa sebenarnya yang melatarbelakngi atau menyebabkan perbedaan tersebut. Berikut pendapat para ulama: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;1). Sebagaimana ulama berpendapat bahwa perbedaan qira’at al-Qur’an disebabkan karena perbedaan qira’at Nabi SAW, artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an, beliau membacakannya dalam berbagai versi qira’at. Contoh: Nabi pernah membaca ayat 76 surat ar-Rahman dengan qira’at yang berbeda. Ayat tersebut berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَ عَبْقَرِيٍّ حِسَاٍن&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Lafadz ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;رَفْرَفٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;رَفَارَفٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ), demikian pula dengan lafadz ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;عَبْقَرِيٍّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) pernah dibaca (&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;عَبَاقَرِيٍّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), sehingga menjadi:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; sebagaimana di kelurkan oleh Hakim melalui ‘Ashim al Jadri dari Abi Buktah bahwa Rasulullah saw membaca seperti itu dengan manambah alif antara huruf &lt;i&gt;bak&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qaf&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="#_edn26" name="_ednref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;2). Pendapat lain mengatakan: Perbedaan pendapat disebabkan adanya taqrir Nabi  terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin pada saat itu.  Sebagai contoh: ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;حَتَّى حِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) dibaca ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;حَتَّى عِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ), atau ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;تَعْلَمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ) dibaca ( &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;تِعْلَمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;3). Suatu pendapat mengatakan, perbedaan qira’at disebabkan karena perbedaan qira’at yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi melalui perantaraan Malaikat jibril.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;4). Jumhur ulama ahli qira’at berpendapat perbedaan qira’at disebabkan adanya riwayat para sahabat Nabi SAW menyangkut berbagai versi qira’at yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;5). Sebagian ulama berpendapat, perbedaan qira’at disebabkan adanya perbedaan dialek bahasa di kalangan bangsa Arab pada masa turunnya al-Qur’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;6). Perbedaan qira’at merupakan hasil ijtihad atau rekayasa para imam qira’at. Bayhaqi menjelaskan bahwa mengikuti orang-orang sebelum kita dalam hal-hal qira’at merupakan sunnah, tidak boleh menyalahi mushaf dan tidak pula menyalahi qira’at yang mashur meskipun tidak berlaku dalam bahasa arab. Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa” qira’at adalah sunnah (yang harus) di ikuti.&lt;a style="" href="#_edn27" name="_ednref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -16.1pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;8 Kegunaan varian Qira’at&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 2.8pt; text-align: justify; text-indent: 15.4pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dengan bervariannya qira’at di atas bukan menunjukkan adanya saling pertentangan dan kontradiksi satu sama lain, bahkan sebagian qira’at saling membenarkan pada sebagian, sebagian menjelaskan pada yang lain, dan juga sebagian menjadi dalil dari yang lainnya sebagaimana di contohkan pada ayat diatas. Dan itu menunjukkan bahwa ayat al Qur’an sangat mubalaghah dan menjadi bukti atas kebenaran Rasulullah saw. Ada bebepa nilai, fungsi dan manfaat di dalamnya, di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;1. meringankan umat islam dan memudahkan mereka untuk menghafal, memahami dan membaca. Karena al Qur’an dengan kebelaghahan dan ke ijazannya maka akan lebih mudah untuk menghafal kalimat-kalimatnya dan lebih mudah dipahami.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;2. Memperbesar fahala umat islam, dimana mereka mencurahkan segala daya upaya untuk mencapai tujuan, yaitu menyelidiki makna-makna, menggali hikmah dan hukum-hukum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melalui dilalah tiap-tiap lafadh, serta menggali rahasia-rahasia dan isyarat-isyarat yang tersembunyi, disamaping untuk menyingkap illat-illat dan untuk mengambil makna yang lebih kuat sejauh kemampuan keilmuan dan pemahaman mereka.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;3. Menjelaskan keutamaan dan kemulian umat Muhammad atas umat sebelumnya. 4 untuk memperkay keilmuan, sehingga dapat membantu orang-orang yang melakukan riset dalam studi ilmu bunyi bahsa (phonetics) dan ilmu bahasa modern. &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;5. Tersingkapnya rahsia Allah di dalam ikut serta menjaga kitabnya (yang mutawtir) sepanjang zaman, yang terukir dalam lembran-lembaran serta terpelihara dalam dada.&lt;a style="" href="#_edn28" name="_ednref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 14.7pt; text-align: justify; text-indent: -11.9pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;10. Korelasi Ahrufus Sab’ah dengan al Qira’atus Sab’ah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: -0.7pt; text-align: justify; text-indent: 36.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Dalam hal ini perlu juga di bahas tentang korelasi antara ahrufus Sab’ah dengan qira’atus Sab’ah, mengingat sering terjadi kerancuan pemahaman antara keduanya, dua-duanya tidak di pahami secara serius dan sinergis sehingga akhirnya berspekulasi bahwa dua istilah itu adalah satu arti. Padahal menurut penulis dua-duanya harus dipelajari secara serius dan mendalam sehingga tidak terjebak pada asumsi yang irrasional dan tidak ilmiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: -0.7pt; text-align: justify; text-indent: 36.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Sebagian orang berasumsi bahwa yang di maksud dengan &lt;i&gt;al Ahrufus Sab’ah&lt;/i&gt; dalam hadits adalah qira’at para imam yang tujuh. Seperti qir’at imam Nafi’ bagian dari ahrufus Sab’ah, qira’at Ibnu Ktasir juga bagian dari ahrfus Sab’ah. Begitu juga qira’at yang tujuh lainnya. Jadi tiap-tiap qira’at yang tujuh adalah bagian dari ahrufus Sab’ah. Memang dalam ranah penafsiran ahrufus Sab’ah, ada yang berpendapat bahwa yang di maksud adalah qira’atus Sab’ah. Alasannya karena di dalam al Qur’an sangat sedikit kalimat yang di baca tujuh &lt;i&gt;aujuh&lt;/i&gt; (cara) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penafsiran ini termasuk asumsi yang tidak benar dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terperangkat pada spekulatif, dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini jelas salah, karena beberapa faktor:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 21pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(1) pendapat ini mengharuskan keabadian (konservasi) tujuh huruf dan melarang meninggalkannya serta membolehkan membacanya ( dari tujuh huruf) hingga sekarang. Pola semacam ini jelas bertentangan dengan ijma’ yang mengatakan bahwa al Qur’an pada awalnya di turunkan dengan tujuh huruf untuk mempermudah terhadap umat. Namun kemudian pada presentasi (bacaan, pada bulan ramadhan sebelum mengahiri hidupnya) terakhir atau masa-masa akhir hampir sebelum meningalnya Rasulullah maka tujuh huruf itu di hapus (di nasakh)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 21pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(2) kemudin pendapat ini akan menimbulkan konsekuensi tidak logis bahwa kodifikasi mushhaf yang di lakukan oleh Khalifah ‘Utsman tidak berguna dan pada waktu itu tidak ada faktor untuk membakar mushhaf-mushhaf lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 21pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(3) Mengharuskan bahwa qira’atus Sab’ah mencakup pada tujuh huruf. Padahal ada qira’at lain selain qira’at yang tujuh, semisal Abi Ja’far, dan Ya’qub. Ini jelas bertentangan juga dengan ijma’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 21pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;(4) Banyak riwayat yang mengatakan bahwa semua qira’at imam yang tujuh sudah di akaui sebagai bacaan imam. Jika ahrufus Sab’ah di maksudkan sebagai qira’atus Sab’ah maka jumlah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ahrufus Sab’ah tidak akan terhitung karena mengikuti sejumlah riwayat yang berbeda dari tiap-tiap imam. Pada kenyataanya tujuh huruf (ahrufus Sab’ah) adalah terbatas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Imam Abu Syam’ah berkata” banyak orang yang menduga bahwa sesuangguhnya qira’atus Sab’ah yang ada sekarang adalah ahrufus Sab’ah yang terdapat dalam hadits. Dugaan ini jelas bertentangan dengan ijma’. Dan asumsi itu hanya muncul dari kalangan yang bodoh (stagnan, mandeg, dan kelambanan berfikir)&lt;a style="" href="#_edn29" name="_ednref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Mengutip pendapat Muhmmad Mahmud ‘Abdullah, sebenarnya qira’atus Sab’ah bahkan yang sepuluh, yang hingga kini masih di baca oleh manusia termasuk bagian dari ahrufus Sab’ah di mana al Qur’an di turunkan. Sebagaimana di jelaskan dalam hadits “ &lt;i&gt;al Qur’an di turunkan atas tujuh huruf&lt;/i&gt;”. Hal ini sesuai dengan akhir presentasi bacaan Nabi di hadapan malaikat Jibril pada ramadhan sebelum wafatnya beliau dan semua riwayat itu mutawatir langsung dari Rasulullah saw. Di riwayatkan oleh Ibnuh Asytah dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “al Fadhâil” dari Ibnu Sirin, ia berkata” Qira’at yang di presentasikan (terakhir) Rasulullah saw dihadapan malaikat Jibril pada tahun di mana beliau meninggal &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah qira’at yang kini di baca oleh umat” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Juga di riwayatkan oleh Ibnu Sirin, ia berkata” Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah (untuk meninjau, meneliti dan memeriksa bacaan al Qur’an)) satu kali tiap tahun pada bulan Ramadhan. Namun pada tahun sebelum wafatnya beliau maka malaikat Jibril datang duakali dalam Bulan Ramadhn. Dan Sesungguhnya qira’at kita adalah Qira’at yang di bacakan pada akhir kali (pada bulan ramadhan sebelum meningglnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beliau)&lt;a style="" href="#_edn30" name="_ednref30" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 19.6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Jadi Qira’at &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang sepuluh itu sesuai dengan &lt;i&gt;khot&lt;/i&gt; mushhaf-mushhaf yang disebarkan oleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Khalifh ‘Utsman keberbagai kota metropolitan dan itu sudah di sepakati oleh kalangan sahabat dan qira’at yang bertentangan harus di tolak. Oleh karena itu qira’at yang sepuluh bisa diakui apabila sesuai dengan mushhaf-mushhaf tersebut. Adapun mengenai sisa ahrufus Sab’ah yang lain telah di nasakh pada akhir penyajian bacaan malaikat jibril kepada Rasulullah saw di Bulan Ramadhan sebelum beliau meningal. Oleh karena itu ayat-ayat al Qur’an yang ditulis dalam Mushhaf ‘Utsman adalah qira’at terakhir yang di bacakan Rasulullah pada bulan Ramadhan sebelum wafatnya beliau dan hal itu sudah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mutawatir. Maka bacaan yang terakhir ituah yang ada dalam mushhaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘Utsmn, sedangkan yang sebelumnya di nasakh.&lt;a style="" href="#_edn31" name="_ednref31" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;11. Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: Arial;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Beberapa data yang telah penulis ungkapkan dalam makalah sederhana ini sangatlah jauh dari kata cukup untuk mengambil sebuh kesimpulan. Maka dengan segala kemampuan yang ada, penulis hanya ingin sekedar menyajikan data-data untuk kemudian di kembangkan dan diperdalam sendiri oleh rekan-rekan yang penulis yakin pengatahuannya melebihi dari penulis. Semoga bingkisan makalah sedarhana ini bermanfaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selamat membaca..........................☺&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;Endnotes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="right" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="edn1"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref1" name="_edn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Az Zarq&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;î, &lt;i&gt;manahilul ‘irfan,&lt;/i&gt; darus Salam, cairo, cet 1. 2003 , hlm 147-148&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn2"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref2" name="_edn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;lbid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt; hlm 148.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn3"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref3" name="_edn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;, hlm, 313&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn4"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref4" name="_edn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;, vol 1. hlm 116&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn5"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref5" name="_edn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;, vol 1. hlm 116&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn6"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref6" name="_edn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;ibid,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt; hlm 121&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn7"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref7" name="_edn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;almausu’ah al Qur’aniyyah al mutakhashshishah,ibd&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;, hlm 338.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn8"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref8" name="_edn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;untuk selengkapnya baca “almausu’ah al Qur’aniyyah al mutakhashshishah,hlm 338-341&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn9"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref9" name="_edn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lih, &lt;i&gt;almausu’ah al Qur’aniyyah al mutakhashshishah,ibd,&lt;/i&gt; hlm 350. Muhamad Mahmud ‘Abdullah, &lt;i&gt;op.cit&lt;/i&gt; hlm 43. dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘Abdush shabur Syahin Dr. &lt;i&gt;tarikhul Qur’an,&lt;/i&gt; hlm 48.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn10"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref10" name="_edn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibnul Jazri, &lt;i&gt;an Nashr&lt;/i&gt;, vol 1 hlm 24.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn11"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref11" name="_edn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;Ibnu Faris, &lt;i&gt;Mukjam maq&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;î&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;sil Lughah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;, vol, 5. hlm 214-215&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn12"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref12" name="_edn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="AF"&gt;Nayif makruf, &lt;i&gt;Hash&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;ishul ‘Arbiyyah wathar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;iqu tadrisih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt; hlm55.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn13"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref13" name="_edn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Muhsin Muhammad salim,&lt;i&gt; al Muqtabs minal lahjatil ‘Arabiyyah wl Qur’aniyyah&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;hlm,7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn14"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref14" name="_edn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Ibrahim Anis &lt;i&gt;Dr.fi al lahjah al ‘Arabiyyah&lt;/i&gt;, maktaba al Anjalu al’arbiyyah, hlm 133&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn15"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref15" name="_edn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;anna’ul Qoththan, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hlm 148.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn16"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref16" name="_edn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="AF"&gt;Mahmud Hadi Zaqzuq, &lt;i&gt;al Mausu’ah al Qur’aniyyah al Mukhoshshah&lt;/i&gt;, al majlisil’a’la lisysyu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;û&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;nil Islamiyyah.hlm, 114&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn17"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref17" name="_edn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Manna’ul Qoththan, &lt;i&gt;op.cit&lt;/i&gt;, hlm153.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn18"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref18" name="_edn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;lihat, majalah,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;nadil Mar’ah al tsaqafi al ijtima’i&lt;/i&gt;, di bentuk oleh satuan mahasiswi fakultas bahsa Arab, universitass mishratah, libiya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn19"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref19" name="_edn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hlm 306&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn20"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref20" name="_edn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;Ibid,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt; hlm 306&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn21"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref21" name="_edn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;lih, di berbagai kitab Qira’at, seperti &lt;i&gt;al Budurul Zahirah&lt;/i&gt;, karya syekh ‘Abdul Fattah al Qdhi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn22"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref22" name="_edn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Manna’ul Qoththan, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, 167 dan Muhammad Mahmud ‘Abdullah, &lt;i&gt;al Ahrufus Sab’ah wa usulul Qira’at&lt;/i&gt;, darush Shabuni, hlm 49.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn23"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref23" name="_edn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;untuk lebih jelasnya lagi, lih, ‘Abdush Shabur Syhin Dr. &lt;i&gt;Trikhul Qur’an,&lt;/i&gt;hlm 273.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn24"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref24" name="_edn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;untuk lebih meperdalam lihat dalam,. &lt;i&gt;Risalatul Qira’&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="AF"&gt;, hlm 478-523&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn25"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref25" name="_edn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;al S Suyuthi, &lt;i&gt;al Itqan&lt;/i&gt;, vol.1 hlm 234&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn26"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref26" name="_edn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Muhammad Mahmud ‘Abdullah,&lt;i&gt; al Ahrufus Sab’ahs wausulul Qira’at,&lt;/i&gt; darush Shabuni, hlm 47.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn27"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref27" name="_edn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Manna’ul Qththan,&lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hlm 171&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn28"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref28" name="_edn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Di riwayatkan oleh Sa’id bin manshur dalam sunannya. Atau lebih mudahnya lihat, Muhmmad Mahmud ‘Abdullah, &lt;i&gt;al Ahrufus Sab’ah wa usulul Qira’at&lt;/i&gt;, hlm 52.&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn29"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref29" name="_edn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;liht, Ibnul Jazri, &lt;i&gt;al Nasyr fil Qir’atil’asyri&lt;/i&gt;, vol 1 hlm 52-53&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn30"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref30" name="_edn30" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Muhamad Mahmud ‘Abdullah, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hlm 35. dan lih, &lt;i&gt;al Ithqan,&lt;/i&gt; hlm 140&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn31"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;a style="" href="#_ednref31" name="_edn31" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="AF"&gt;Syakh al Qodhi, &lt;i&gt;abh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;tsun fil Qir’ati al karim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;, hlm 21-22&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="AF"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6928245588125001608-5091382313706453455?l=aaqir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aaqir.blogspot.com/feeds/5091382313706453455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6928245588125001608&amp;postID=5091382313706453455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/5091382313706453455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6928245588125001608/posts/default/5091382313706453455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aaqir.blogspot.com/2008/10/varian-dialek-arab.html' title='Varian Dialek Arab'/><author><name>Muhammad Baqir/aaqir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17765114476482057516</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_w6I17Fl8Vj0/SnbDeNvBKCI/AAAAAAAAABU/iPtF9gxtWpI/S220/DCP_9873.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
